Cerita Hot Rangsangan untuk Berselingkuh

Meskipun awalnya merasa cemas, akhirnya Rita dapat rileks dan menikmatinya. Dia dan kekasihnya, Joni sedang ber-double date dengan teman lamanya Roni dan tunangannya, Sarah.
“So gimana ceritanya kamu dan Roni ketemu?” tanya Sarah pada Rita.
“Waktu di kampus dulu. Kita punya beberapa teman yang sama dan sampai akhirnya kita bekerja di tempat yang sama setelah lulus. Kita terus berteman sejak itu.”
“Lalu apa kalian berdua pernah kencan atau mungkin pernah punya hubungan khusus yang lain?” Sarah tersenyum, tapi Rita perhatikan Sarah memegangi lengan Roni dengan posesif.
“Oh nggak pernah,” Rita tertawa. “Kami hanya berteman saja, nggak lebih. Dan kalian sekarang sudah tunangan. Aku turut bahagia.” Rita berkata jujur. Dia sungguh suka dengan Sarah.
“Rasanya aku sudah sangat mengenalmu,” lanjut Rita. “Roni selalu cerita tentangmu, bahkan sejak dia pertama kali ketemu kamu.” dia menyikut Roni menggodanya. “Aku tak percaya kalau kalian sudah jalan 2 tahun lebih dan baru sekarang kamu kenalkan dengan kami.”
“Aku tahu, aku tahu,” Roni mengaku dengan canggung. “Tapi Sarah menetap di kota lain, sulit mendapat waktu yang tepat.”
“Apa kamu akan pindah ke sini, Sarah?” tanya Joni, masuk ke percakapan. “Atau Roni yang akan pindah ke sana?”
“Tergantung di mana nanti tempat Sarah magang,” jawab Roni. “Dia lulus semester ini, kita baru putuskan setelah itu.”
“Terus, apa kalian sudah memikirkan untuk hubungan yang lebih serius lagi?” goda Sarah.
Dengan tersenyum, Joni merengkuh Rita dalam pelukannya. “Well, kita baru jalan beberapa bulan. Tapi semua bisa terjadi nanti.”
Beberapa hari berikutnya…
Roni tengah menggoyang Rita. “Ini yang kamu mau, jalang, ini yang kamu mau?”
“Oh god, yes, fuck me,” jawab Rita. Dia kaitkan kaki jenjangnya melingkari pinggang Roni dan ujung tumit sepatunya menancap kuat pada pantat Roni. “Fuck me harder!”
Dengan kasar Roni meremas buah dada Rita yang kecil saat dia menyetubuhinya. Bara kenikmatan menyengat Rita sewaktu Roni menjepit putingnya yang sensitif. “Ya, begitu Bim, terus begitu!” desak Rita.
Roni memperlambat goyangannya dan dengan ujung penisnya dia berusaha mencari titik g-spot Rita. Begitu Rita memekik parau, Roni tahu kalau dia sudah berhasil mendapatkannya. Lalu dia percepat lagi ayunannya, mengarahkan batang penisnya sedikit miring pada setiap tusukannya agar dapat menggesek kelentit dan titik g-spot Rita. Suara rintihan Rita semakin terus terdengar saat Roni memberinya gelombang kenikmatan ke sekujur tubuhnya. Dengan cepat orgasme Rita menerjang, membuat kakinya mengejang dan ujung jemari kakinya yang terbungkus stocking menekuk di dalam high heels yang dia pakai.
Roni juga menyusul tak jauh lagi. “Aku hampir keluar,” dia menggeram. Rita tak menggunakan birth control, tapi tak pernah dia menyuruh Roni memakai kondom. Rita lebih suka begitu. Dia suka sensasi rasa dari otot batang penis yang bergesekan dengan dinding vaginanya. “Jangan keluarkan di dalam!” teriaknya.
“Oh ya?” Roni mendesis penuh ancaman. “Terus aku keluarkan di mana?”
Dia cabut batang penisnya dan menjambak rambut Rita. Dia tersentak kesakitan saat Roni menarik kepalanya mendekat ke selangkangannya. “Gimana kalau di wajahmu?” geramnya sembari mengarahkan ujung penisnya pada wajah manis Rita.
“Jangan, jangan,” tolak Rita, tapi terlambat. Diiringi dengan suara geraman, Roni ejakulasi, menyemprot wajah manis Rita dengan air maninya.
Keduanya rebah ke atas ranjang, coba mengatur nafas yang memburu.
Akhirnya, Rita bangkit dan mengambil sebuah handuk, dia seka sperma dari wajahnya. Dengan memandang dalam cermin, dia menatap bayangan Roni dengan pandangan jengkel. “Kenapa sih sampai kena rambutku?” gerutunya sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
Roni tertawa. “Biarkan saja,” godanya. “Aku yakin Joni akan suka melihatmu setelah dapat facial.”
Rita menyeringai dan dengan jahil dia lemparkan handuk tersebut pada Roni. “Hey, jangan lempar padaku,” Roni protes.
Rita pakai celana dalamnya lalu meraih bra-nya. “Janga pergi,” ucap Roni. “Tinggallah dulu sebentar lagi.”
Rita merapikan stockingnya kemudian berusaha mengenakan gaunnya. “Aku tak bisa, aku harus pergi. Aku sudah ada janji dinner dengan Joni.”
Roni mengamati Rita yang tengah mengenakan gaunnya. Tubuhnya begitu indah. “Bisa bantu dengan resleitingku?” tanya Rita, dia tahan rambutnya ke atas dan berbalik.
Bukannya membetulkan resleiting gaun Rita, Roni malah menjulurkan tangannya ke depan untuk menggenggam buah dada Rita. Dia raba buah dada itu dari luar bra dan mencium leher Rita. “Tinggallah sebentar lagi,” desaknya. “Kita bisa mengulanginya lagi.”
Rita merasakan putingya kembali mengeras. Roni juga merasakan itu dan di gesek dengan jepitan dua jarinya. Rasa nikmat menyergap tubuh Rita, dari puting ke kelentitnya. “God, dia sangat tahu betul cara merangsangku,” pikirnya. Tapi akhirnya dia berhasil mengumpulkan kesadarannya untuk mendorong Roni menjauh. “Bim, aku nggak bisa. Sudah kubilang, aku ada janji dengan Joni.”
Roni mengangkat bahunya menyerah dan kemudian dia tarik resleiting gaun Rita ke atas. “Terus apa hubungan kalian akan berlanjut lebih serius lagi?”
Rita menjawab sambil merapikan rambut dan makeup-nya. Dia berusa mengabaikan denyutan di antara pahanya. “Aku belum tahu. Aku sungguh menyukainya tapi aku belum yakin apa ini akan terus permanen atau tidak. Maksudku, kami bahkan belum pernah bicara tentang pernikahan sama sekali.”
Roni meraih paha Rita dan mulai merayap naik hingga berhenti pada pantatnya yang kencang. “Lalu kalau kamu jadi menikah, apa kamu masih mengijinkanku menikmati ini?” goda Roni dengan menyeringai.
“Aku nggak tahu,” tukas Rita. “Kenapa nggak kamu tanyakan pada tunanganmu, Sarah?”
Nada suara Rita membuat Roni terkejut. “Apa kamu marah padaku karena bertunangan?”
“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Rita cepat. “Aku turut bahagia untuk kalian dan aku suka Sarah, aku sungguh suka dia. Tapi sejak kita mulai persahabatan dengan nilai lebih ini, seharusnya hanya boleh kalau kita tak punya pasangan tetap. Apa kamu nggak merasa kalau kita harus sudahi ini semua? Kita sudah milik orang lain sekarang.”
“Ayolah, Mil,” jawab Roni said dengan sinis. “Kita sudah pernah punya pasangan dulu dan kamu nggak pernah komplain.”
“Kamu sudah tunangan, brengsek!” teriak Rita.
Roni masih tetap sinis. “Oh, ayolah. Hubunganku dengan Sarah belum berjalan terlalu lama. Kamu kan tahu kalau tunangan kami baru berjalan sebentar. Kenapa kamu jadi marah sekarang?”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Rita terus mencecar. “Apa kamu akan terus selingkuh dibelakang Sarah selamanya?”
Roni rebah di atas ranjang, kedua tangan di bawah kepalanya. “Mungkin.”
Dengan mata terbelalak lebar, Rita menyusul duduk di ranjang. “Kamu bercanda? Bahkan setelah kalian menikah? Bagaimana kamu bisa menghianati dia seperti itu? Kukira kamu mencintainya.”
“Tentu saja aku mencintai Sarah, itu alasan aku akan menikahi dia.” Roni bangkit dan duduk di sebelah Rita. Dengan menyeringai dia berucap, “Dengar Rita, kita sudah berteman sangat lama, kan? Jadi jangan marah kalau aku bilang ini, tapi memang inilah kenyataannya, selingkuh itu menyenangkan.”
“Apa?” tanya Rita dengan gusar.
“Kamu dengar apa yang sudah kukatakan. Ini semua tentang jadi nakal. Tentang melanggar batasan. Tentang resikonya. Kalau kamu terus berjalan lurus-lurus saja, seks akan jadi membosankan. Itu sebabnya kamu sering dengar kalau orang yang sudah menikah jadi jarang berhubungan seks. Seks itu hanya jadi menyenangkan kalau dilakukan dengan nakal, terlarang. Jadi, mungkin aku akan terus selingkuh di belakang Sarah. Itu akan membuatku tetap tertarik dengan seks dan itu bagus untuk pernikahan kami.”
Rita tak sanggup mempercayai apa yang dia dengar. “Ya, benar, tetaplah dengan prinsipmu itu,” jawabnya dengan tertawa. “Tapi kamu harus cari pasangan selingkumu yang lain. Kalau Joni melamarku, itu akan jadi akhir hubungan kita ini.”
Tangan Roni terjulur dan mulai membelai paha Rita. Dia dekatkan wajahnya pada Rita. “Ayolah. Kamu tak mungkin serius,” bisiknya di telinga Rita. “Ini akan jadi jauh lebih menyenangkan, setelah kamu tunangan.”
Tangan Roni berhenti di balik gaun Rita dan detik berikutnya dia sudah membelai kulit telanjangnya di atas stocking. Roni juga mencumbu lehernya, yang selalu dapat merangsang Rita. Tangan Rita mencoba menghentikan laju tangan Roni di dalam gaunnya, tapi Roni terus melaju dan berikutnya dia sudah sampai bahan tipis dari celana dalam berenda yang dikenakan Rita. Roni memberinya sebuah french kiss dan Rita mendapati dirinya membuka kedua pahanya untuk Roni. Roni segera menggesek kelentit Rita dari luar celana dalamnya.
“God,” Rita melenguh. Rasanya sungguh enak. “Apa – apa maksudmu, lebih menyenangkan?” dengan susah payah Rita coba bertanya saat dengan perlahan tubuhnya mulai menggeliat pada tangan Roni.
Roni menarik Rita untuk berdiri, ujung tumit sepatunya mengentak di atas lantai kayu. Roni singkapkan gaun Rita hingga pinggang. Dia tarik celana dalamnya ke samping dan menurunkan tubuh Rita menuju ujung penisnya yang telah mengeras kembali. Sembari dia tusukkan batang penisnya membelah tubuh Rita, dia mendesis, “Berselingkuh di belakang kekasihmu sudah terasa menyenangkan.” batang penis Roni sudah terbenam seluruhnya sekarang dan dia mulai menyodok Rita. “Akan terasa jauh lebih seru saat selingkuh di belakang tunanganmu!”
Rita sudah berada di ambang orgasmenya lagi dan dia tahu kalau Roni juga. Dengan nafas tersengal, Rita berusaha untuk memperingatkan Roni, “Jangan keluarkan di dalam.”
Tapi Roni tak mengacuhkannya. Dia kencangkan cengkeramannya pada pinggang Rita saat dia menyodoknya semakin keras, mencegah Rita agar tidak menjauh. Dia ingin keluar di dalam wanita manis tersebut. Dia ingin agar Rita terisi dengan air maninya saat dia bertemu dengan kekasihnya, Joni malam ini nanti.
“Selingkuh itu menyenangkan.” ucapan Roni terus terngiang di dalam benak Rita saat dia duduk di depan Joni di restoran tersebut.
Apa itu benar? Di sepanjang malam itu, dia terus memikirkan ucapan Roni tersebut. Saat Joni mengecup pipinya, dia berpikir, “Beberapa jam tadi, wajahku penuh sperma Roni.” Saat Joni menggenggam tangannya, dia membatin, “Tadi tangan ini kugunakan untuk menggenggam batang penis Roni.”
Terasa menyenangkan saat memikirkan itu semua. Dia tahu itu salah. Itu terlarang. Tapi itu hal tabu yang menyenangkan. Dia raih dua kali orgasme bersama Roni hanya beberapa jam sebelumnya, tapi hanya memikirkan itu semua bisa membuat birahinya menggelegak.
Seusai dinner keduanya pergi ke pertunjukan teater. Rita menyilangkan kedua kakinya dan tangan Joni berada di paha Rita, seperti yang selalu dia lakukan. Tangan Joni mulai bergerak meraba paha Rita dan ujung jarinya berhenti tepat di bawah gaun Rita, tapi karena sekarang di sekeliling mereka ada orang banyak, Joni tak meneruskannya. Tiada hentinya Rita terus berpikir, “Kalau Joni menyentuh vaginaku sekarang, dia akan merasakan sperma Roni.”
Pikiran nakal tersebut membuat Rita bergidik. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Joni khawatir. “Ya,” Rita coba menjawab dengan nada sewajarnya. “Hanya agak dingin rasanya di sini.”
Harusnya Roni tidak keluar di dalam. Terkadang dia bisa jadi begitu menyebalkan. Tapi kekurangajarannya itu juga membuatnya terangsang. Hubungan seks mereka sebenarnya tak bisa dikatakan mesra. Roni tak pernah berlaku lembut atau penuh perhatian. Kala mereka berhubungan badan, dia memperlakukan Rita sebagai perempuan jalang. Tapi itulah sebabnya Rita sangat suka berhubungan seks dengannya. Dia suka diperlakukan kasar dan birahinya selalu jadi lebih berkobar saat pria memegang kendali seutuhnya. Dengan rambut hitam legam, wajah muda yang manis dan segar, Rita terlihat begitu lugu dan seakan tanpa dosa. Tapi sesungguhnya dia suka bertingkah nakal, liar. Dia suka dimanupulasi, diperlakukan sebagai wanita jalang dan Roni memberikan itu semua. Tapi wajah manis, lugu dan tanpa dosa dengan tubuh indah menggiurkan menyamarkan itu semua.
*****
Beberapa minggu kemudian, Rita dan Joni tengah sarapan saat telpon berdering.
“Hallo?” jawab Rita.
“Hai, ini aku. Sarah nggak bisa datang akhir pekan ini. Kamu bisa kemari?”
Rita melirik ke arah Joni, yang sedang baca koran. Hari ini mereka sudah berencana untuk menghabiskan waktu berdua. “Aku nggak tahu,” jawabnya ragu.
“Bilang ke Joni aku butuh bantuanmu untuk belanja cari hadiah untuk ulang tahun Sarah.”
Rita merasa bingung. Dia sudah menantikan untuk bersama Joni hari ini, dia sungguh menyukainya. Mungkin dia benar-benar sudah jatuh cinta. Tapi sekarang sudah lebih dari sebulan sejak terakhir dia bertemu Roni. Biasanya mereka melampiaskan birahi setidaknya sekali seminggu. Itu sudah jadi rutinitas mereka sejak masih kuliah. Rita menyebut itu ” resep Roni.” Roni adalah the best lover yang pernah dia dapat dan bahkan saat dia sedang menjalin hubungan dengan pria lain. Seperti sekarang ini, saat dia bersama Joni, dia masih mendambakan apa yang bisa Roni berikan untuknya. Tapi belum pernah dia menjalin hubungan seserius sekarang, seperti yang tengah dijalinnya bersama Joni.
Namun, tetap saja tubuhnya punya keinginan untuk dipenuhi…
Dia menoleh ke arah Joni, ada sedikit rasa bersalah. “Honey?” ada rasa ragu untuk memulai. “Roni tanya, apa aku bisa membantunya hari ini. Sarah ulang tahun minggu depan dan dia butuh bantuan untuk cari hadiah.”
Joni terlihat kecewa. “Bukannya kita punya rencana sendiri hari ini. Baca koran, makan siang di luar, nonton film. Aku sudah menantikannya.”
“Aku tahu, aku juga honey. Kuusahakan pulang saat dinner.” Dia julurkan kakinya di bawah meja dan perlahan menekankan ujung jari kakinya ke selangkangan Joni. “Kita habiskan malam nanti berdua.” Joni merasakan selangkangannya menyesak. Dia merasa kecewa, tapi dia tak mau jadi seperti salah satu pria yang membatasi kekasihnya dalam berteman dengan pria lain. “Baiklah, pergilah.”
Tersenyum lega, Rita membungkuk ke depan dan mencium Joni. Lalu dia raih pesawat telpon. “Oke, kita ketemu di mall satu jam lagi.”
“Bagus,” jawab Roni. Dia jadi ereksi sekarang. Roni berbisik di telpon. “Rita, ingat saat kamu cerita tentang bustier yang dibelikan Joni di hari Valentine? Nanti pakai, oke?”
Alis Rita berkerut. “Kita lihat saja nanti,” jawabnya asal.
Sesudah menutup telpon, Rita mencium Joni sekali lagi. “Terima kasih sudah begitu pengertian. Roni sangat butuh bantuan, dia ingin membuat Sarah terkesan. Aku janji akan menebusnya nanti malam.”
Tangan Joni menggapai tubuh Rita dan menariknya dalam pelukannya. Tangannya menuju pantat Rita yang sekal dan kencang. “Gimana kalau quickie? Masih satu jam lagi.”
Rita tertawa geli. “Aku mau, tapi aku harus berdandan.” Dia berontak lepas dari rengkuhan Joni dan lari menuju kamar. “Aku harus bergegas, kamu sudah tahu kan, berapa lama aku dandan,” ucapnya dari balik bahu.
Rita merasa bingung. Apa yang akan dia pakai? Dia tak mau Joni melihat gaunnya terlalu seksi untuk acara belanja dengan Roni nanti. Biasanya dia hanya memkai jeans dan atasan, dengan lingerie seksi di dalamnya. Tapi Roni ingin dia memakai bustier. Dia tahu kenapa. Roni kadang juga bertingkah mesum. Tapi itu artinya dia harus memakai sebuah rok.
Akhirnya, dia putuskan untuk memakai sebuah blus sutera berwarna putih tulang dan dipasangkan dengan sebuah rok berlipat warna hitam yang hanya sampai di atas lututnya. Di dalamnya dia memakai bra model penuh dan sebuah celana dalam serta panty hose berwarna hitam. Dia ikat rambutnya ke atas dan memberi sapuan makeup tipis di wajahnya. Dia komplitkan penampilannya dengan sepasang sepatu model ballerina berwarna hitam.
Dia tak bisa memakai bustier tersebut sekarang. Joni pasti akan memberinya sebuah pelukan sebelum dia pergi dan dia akan bisa merasakan bustier tersebut. Lalu dia harus memberi alasan kenapa memakai lingerie seksi hadiah Valentine Joni tersebut. Dia mencari di dalam lemari pakaiannya, dia temukan sebuah tas untuk belanja. Pertama, dia masukkan bustier tersebut dan beberapa barang, kemudian dia menutupinya dengan sebuah gaun yang baru saja dia beli. Dia bercermin. Terlihat cantik, tapi nggak seksi. Paling tidak, terlalu seksi.
Dengan membawa tas dia keluar dari kamar. “Kamu terlihat cantik,” Joni langsung berkomentar dan merengkuhnya dalam pelukannya lalu menciumnya. “Tapi memang kamu selalu terlihat cantik.” Semakin merapat, dia berkata, “Meskipun, dandananmu sedikit berlebihan.”
Rita tersenyum lugu dan menunjuk tas belanja yang dia bawa. “Aku tahu, tapi aku punya rencana untuk menukar baju yang baru kubeli kemarin. Itu, yang kamu bilang nggak begitu suka? Makanya aku pakai ini biar bisa gampang mencoba beberapa baju lainnya.” Kumohon jangan periksa isi tasku, doa Rita.
Joni menariknya ke dalam pelukannya lagi dan tangannya menggapai tepian rok Rita. “Aku tak masalah, kamu tahu aku suka melihat paha indahmu.” Tangan Joni menyusup ke balik rok dan mengelus paha Rita, dari lutut ke pahanya berulang kali. “Lho, nggak pakai stocking?” suaranya terdengar kecewa. “Kamu tahu kalau aku nggak suka kamu pakai pantyhose.”
Rita tertawa dan dengan bercanda dia dorong Joni menjauh. “Aku cuma pergi dengan Roni, konyol ah, dan thigh high mahal harganya. Aku nggak mau menyia-nyiakan itu hanya untuknya. Aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu lagi nanyi, ok? Dan nanti aku akan pakai stocking hanya untuk kamu!”
Dengan menyeringai lebar, Joni berkata, “Oke, aku bisa tunggu,” dan dia memberikan ciuman perpisahan untuk kekasihnya.
*****
Sebelum sampai di apartemen Roni, Rita singgah dulu di sebuah pom bensin. Dia sahut tasnya dan bergegas menuju ke kamar kecil . Dia terburu-buru, karena dia sadar kalau dia hanya punya waktu beberapa jam saja bersama Roni.
Rita lepas semua pakaiannya hingga tubuhnya hanya berbalut sebuah handuk saja di dalam kamar kecil tersebut. Dia semprotkan parfum di belakang telinganya, di antara belahan dadanya dan terakhir di antara selangkangannya. Dia cari di dalam tasnya, dikeluarkannya bustier tersebut dan langsung dia kenakan. Terlihat begitu ketat membungkus tubuh rampingnya dan membuat buah dadanya setingkat lebih besar dari ukuran sebenarnya. Tak heran Joni selalu suka saat dia memakainya. Kembali dia mencari di dalam tasnya dan mengeluarkan sepasang stocking baru berwarna hitam. Dengan cepat dia buka bungkusnya dan mengeluarkan stocking berbahan sutera tersebut dan dengan hati-hati dia pakaikan pada sepasang paha jenjangnya. Dia pasangkan bagian atas stocking tersebut pada pengait garter straps yang terhubung pada bustier. Dia tak mau repot-repot dengan celana dalam.
Rita pakai kembali roknya. Kali ini dia menariknya tinggi hingga naik melewati pinggangnya, hingga ujungnya hanya sampai di atas lututnya. Merubah sebuah rok yang konservatif menjadi sebuah rok mini. Kemudian dia pakai kembali blusnya, tapi tak dia kancingkan dua buah kancing bagian atas, membiarkan belahan dadanya yang terdesak bustier terpampang indah menggoda. Sekali lagi mencari dalam tasnya, dia kelarkan sepasang stiletto heel berwarna hitam, lalu memakainya.
Dia bergerak ke depan cermin, dia lepaskan tali rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas menyentuh bahunya yang ramping. Dia rapikan rambutnya dan memberi sentuhan pada riasannya sekali lagi, kali ini riasan yang lebih ‘berat’, yang dia tahu betul dapat menonjolkan sisi ‘nakal’ dari kecantikannya.
Akhirnya, dia telah siap. Dia masukkan kembali semuanya ke dalam tasnya. Lalu memeriksa sekali lagi ke dalam cermin, dia melangkan menuju tempat Roni
Roni benar-benar menikmati waktunya bersama Rita, mereguk setiap tetes kenikmatan yang diberikan tubuh Rita. Keduanya rebah berdampingan di atas ranjang Roni, sama-sama masih berpakaian lengkap. Roni membelainya, jemarinya menelusuri belahan bukit dada Rita yang terbuka, lalu membuat gerakan melingkar pada buah dadanya. Paha Roni berada di antara paha Rita dan rok Rita tersingkap tinggi hingga atas pahanya. Roni telusuri bagian atas stocking tersebut dan berikutnya garter starpnya, ujung jarinya bergerak dari licinnya bahan sutera tersebut hingga kulit telanjangnya yang lembut, begitu berulang-ulang.
Rita teramat birahi. Sentuhan Roni membuatnya gila, tapi gairahnya menginginkan lebih dari hanya sekedar semua sentuhan Roni tersebut.
Roni lepaskan kancing blus Rita lalu menyusup ke dalamnya. Jemarinya menjelajahi gundukan di depan bustier tersebut. “Apa Joni menyetubuhimu, malam itu, setelah kita bersama? Bagaimana rasanya, dengan maniku di dalammu? Apa rasanya nikmat?”
Kedua mata Rita terpejam saat dia nikmati belaian Roni. “Rasanya selalu nikmat saat Joni bercinta denganku.”
Roni menggoda Rita dengan memencet putingnya, yang sekarang telah terpampang sebagian dari balik ujung atas bustiernya. “Kamu tahu maksudku. Apa rasanya lebih hebat? Bukankah terasa lebih seru, dengan maniku di dalammu? Apa kamu tak merasa lebih nakal bercinta dengannya, sehabis kamu bersamaku? Bukankah rasanya lebih menggairahkan?”
Rita tak menjawabnya. “Aku nggak paham,” katanya. Dia taruh tangannya di selangkangan Roni. “Itu membuatmu terangsang, kan, bahwa kamu lebih dulu di dalam tubuhku sebelum Joni?”
Rita merasakan batang penis Roni berkedut. “Aku rasa memang iya,” dia tertawa geli. Lalu ekspresinya berubah serius. “Kenapa ini membuatmu begitu terangsang?”
“Aku sudah bilang padamu selingkuh itu menyenangkan, mendebarkan, sangat merangsang.” Roni menyeringai. “Well, jauh lebih hebat kalau kamu melakukannya dengan kekasih lelaki lain.”
Rita mencibirkan bibir pada Roni. “Kamu sangat jahat.” Dia mendorongnya. “Apa bedanya Joni dengan pacar-pacarku yang dulu? Kamu kan dulu juga melakukannya. Kenapa sekarang jadi lebih merangsang?”
Roni menyeringai. “Jangan berlagak bodoh, kamu tahu jawabnya. Kamu belum pernah serius dengan pria lainnya. Lain ceritanya kamu dengan Joni. Tapi daripada bersama Joni, kamu lebih memilih di ranjangku sekarang. Kamu menyukai Joni, bahkan cinta, tapi kamu biarkan aku menyetubuhimu. Apa kamu tidak lihat betapa hebatnya rangasangan dari ini semua?”
“Kamu gila,” kata Rita. Dia hendak menjauh, tapi Joni menariknya kembali.
“Ayolah, nggak usah bohong. Aku kenal kamu. Aku tahu isi kepala cantikmu . Mungkin kamu terlihat lugu di luar, tapi sebenarnya kamu wanita yang liar. Berselingkuh di belakang pacarmu membuatmu terangsang juga.”
“Itu nggak benar,” protes Rita.
Roni membelai bustier berbahan sutera tersebut, jemarinya meluncur di gundukan dada Rita. “Rita, Joni memberimu hadiah ini di hari Valentine, kan? Aku yakin ini jadi busana yang spesial baginya, kan? Mungkin kamu hanya memakainya di acara yang spesial saja, seperti hari jadi kalian. Apa kamu nggak merasa bersalah, sudah sembunyi-sembunyi memakainya untukku? Apa kamu nggak merasa bersalah saat aku setubuhi kamu dengan memakainya? Dan apa rasa bersalah itu nggak membuatmu terangsang? Bukankah mengasikkan, mendebarkan saat menjadi nakal dan liar?”
Rita terdiam untuk waktu yang lama. Roni benar, dia merasa bersalah telah memakai bustier ini. Tapi dia ingat betul betapa mendebarkannya saat menyelinap dari Joni dan berganti pakaian di pom bensin tadi. Resiko dan perasaan nakal tersebut teramat sangat membakar birahinya.
Tapi Rita belum siap untuk mengakuinya di depan Roni. Dia tanggalkan roknya dan kemudian blus yang dia pakai, stocking dan stiletto heel nya. Dia buka resleiting celana Roni dan dengan hati-hati mengeluarkan batang penisnya yang keras. Kemudian dia merangkak menaikinya. “Nggak usah ngomong lagi. Aku ingin kamu sekarang.” Dia bimbing batang penisnya memasuki tubuhnya sendiri dan kemudian dia turunkan tubuhnya. Saat dia bergerak turun naik di batang penis Roni, Rita menatap matanya. “Jangan main-main hari ini. Kamu harus keluarkan di luar, ok?”
Roni menggeramkan persetujuannya. Vagina rapat milik Rita terlalu nikmat rasanya. Dia meraih buah dada Rita yang kecil dan langsung meremasnya. Lalu dia gulingkan tubuh Rita ke bawah dan melanjutkan menyetubuhinya dengan gaya missionary. Keduanya sudah berada di ambang orgasme.
“Kamu tahu di mana akan ku keluarkan, pelacur?” desis Roni. “Akan ku semprotkan semua di bustiermu, agar setiap kali kamu memakainya untuk Joni, jadi bekas air maniku!”
“Oh gawwwwd,” Rita mengerang dan punggungnya meregang saat dia raih orgasmenya e.
“Kocok aku!” perintah Roni begitu dia cabut batang penisnya dari dalam vagina Rita. “Semprotkan maniku ke seluruh bustiermu.”
Masih dalam pergolakan orgasmenya sendiri, tangan Rita meraih di sela tubuh mereka dan dia genggamkan tangannya pada batang penis Roni. Dia memompanya, mengarahkan kepala penisnya yang bulat ke bustier hadiah Joni untuknya di hari Valentine. Detik berikutnya, sekujur tubuh Roni bergetar hebat dan dia berejakulasi di seluruh bustier yang dipakai Rita.
engan perlahan Joni mengocok keluar masuk dalam vagina Rita. Orgasmenya sudah begitu dekat dan dia ingin menahannya selama yang dia mampu. Rita bisa merasakan kalau Joni sudah di amabang batas. Dia kaitkan kakinya melingkari pinggang Joni seerat mungkin dan dia hentakkan pinggulnya ke atas menyambut tiap sodokan Joni, menginginkan batang penis Joni agar terbenam sejauh mungkin dalam tubuhnya.
“Aku mau keluar,” erang Joni. Rita mengeratkan dekapannya ke tubuh kekasihnya. “Aku juga, aku hampir keluar,” Rita tersengal, dia benamkan kepalanya di dada Joni dan merengek, “Oh god oh god.” Joni menggeram dan dia semburkan air maninya ke dalam kondom.
Sepasang kekasih tersebut saling berdekapan untuk beberapa lamanya, hingga kemudian Joni berusaha menarik tubuhnya, berusaha untuk berhati-hati agar kondom yang membungkus batang penisnya tidak terlepas. Seperti biasanya, Rita menggerakkan kepalanya turun menuju selangkangan kekasihnya, dan dengan penuh kelembutan dia lepaskan kondom tersebut dari batang penis Joni yang melemas. Dia peras air mani dari dalam kondom tersebut ke dadanya, lalu meratakannya ke sekujur buah dadanya sendiri. Kemudian dia jilati air mani yang tersisa di batang penis Joni, berusaha untuk tak menyentuh kepala penisnya yang sensitif.
Joni menyaksikan apa yang tengah dimainkan kekasihnya dengan seksama. Itu tak pernah gagal menyalakan birahinya. Rita memiliki wajah paling manis dan paling cantik, tapi dibalik itu dia adalah seoerang wanita yang liar di atas ranjang. Belum lagi kombinasi tubuhnya yang menggiurkan, buah dadanya yang meskipun kecil tapi mempunyai bentuk yang demikian sempurna, pantat yang kencang dan sepasang paha nan jenjang, kesemuanya itu merupakan mimpi basah dari setiap pria. Joni suka cara pandang para pria terhadap kekasihnya tersebut setiap kali mereka kencan. Dia begitu sexy.
Kendati dia baru saja orgasme beberapa saat berselang, Joni merasa ereksi kembali. Dengan enggan dia menariknya menjauh. “Aku harus pergi sekarang kalau nggak mau ketinggalan pesawat.”
Rita cemberut. Dia begitu merindukan kekasihnya. “Aku harap kamu nggak jadi pergi.”
Joni menciumnya. “Aku tahu. Aku akan kembali beberapa hari lagi, lebih cepat kalau meetingku cepat selesai.”
“Aku harap begitu. I love you.”
Joni mencium Rita lagi. “I love you too.”
Rita hanya rebahan saja di atas ranjangnya selepas Joni pergi. Dia merasakan frustrassi secara seksual. Dia mencintai Joni, tapi hanya saja Joni bukanlah seorang pecinta yang handal. Jarang sekali dia raih puncak kenikmatan saat mereka bercinta. Memang dia dapat rasakan kenikmatan kala mereka melakukannya, tapi tanpa getar letupan orgasme yang sanggup membuat setiap ujung jari kakinya menekuk, selalu saja dia merasa terhempas dengan perasaan tak terpuaskan serta frustrasi. Tentu saja tak pernah dia ungkapkan semuanya itu pada Joni. Dia tak mau melukai perasaannya. Dan untung saja dia bisa menutupinya dengan sangat baik.
Dia sudah tak berhubungan dengan Roni sejak Roni menikah, beberapa bulan yang lalu. Tapi bukannya Roni tak mencobanya. Roni terus menelponnya setiap waktu. Bahkan Roni ingin melakukannya di malam sehari sebelum dia menikah dan waktu pesta resepsi pernikahannya, Roni berhasil membuat Rita berada di sebuah kamar kosong hanya berdua saja dengannya dan memncumbu Rita dengan jari-jarinya. Sebenarnya tiada hentinya Roni memohon pada Rita untuk memberinya quick blow job, tapi Rita berhasil kabur keluar dari kamar tersebut.
Itu sudah tak benar lagi, sudah melenceng jauh. Ya, selingkuh memang mengasikkan. Tapi Roni sudah menikah sekarang dan hubungannya dengan Joni sudah semakin bertambah serius. Sebelumnya perselingkuhan mereka tak lebih hanya sebuah permainan seks yang nakal saja dan Rita mau melakukannya karena mereka belum punya ikatan yang serius. Semuanya sudah lain sekarang.
Namun tubuhnya mendambakan tubuh Roni. Birahinya melebihi semua rasa mendebarkan dari berselingkuh. Roni memang seorang pecinta yang lihai. Dia tahu betul semua titik sensitif tubuh Rita dan sangat tahu cara menyentuhnya. Dan batang penisnya sungguh menakjubkan. Dia teringat sewaktu di bangku kuliah, semua temannya berkata kalau ukuran tidaklah penting. Dia selalu setuju, karena itu sudah jadi pakem yang ada di lingkungannya dan dia tak begitu tahu apa memang ada yang ebih baik dari itu semua. Setelah lulus dia mulai aktif secara seksual dan dengan cepat menyadari kalau ukuran memang berpengaruh, setidaknya bagi dirinya sendiri. Lelaki yang memiliki tubuh bagus lebih menggairahkan. Penis berukuran besar lebih nikmat dibandingkan yang berukuran kecil. Penis berukuran besar lebih menggairahkan untuk dilihat, lebih merangsang untuk disentuh dan terasa lebih nikmat saat berada di dalam tubuhnya.
Joni seorang pecinta yang penuh perhatian, tapi dia tak handal di atas ranjang. Rita merasa bersalah memikirkannya, tapi dia tak mampu mengingkari kenyataannya. Dhia sudah berusaha mengajarinya apa yang dia senangi dalam seks, tapi itu tak sanggup membantu. Bahkan saat Joni melakukan tepat seperti yang diminta Rita, itu tak terasa semenyenangkannya saat melakukanya dengan Roni, ataupun saat dengan pria lain yang pernah bersamanya. Roni mempunyai tubuh yang kekar dan tinggi besar. Joni tidak. Dan Roni tahu apa yang diharapkan Rita. Roni tahu kalau Rita suka sedikit dilecehkan, Rita suka diperlakukan layaknya seorang pelacur binal.
Joni takkan mungkin memperlakukannya seperti itu. Dia terlalu baik dan perhatian. Rita mencintai Joni dan merasakan kebahagiaan lebih dari yang pernah dia rasa sepanjang hidupnya. Tapi jika Joni melamarnya, apa dia akan mengatakan iya? Seks bukanlah segalanya, tapi Rita takkan sanggup menjalani hidupnya selalu merasakan tak terpuaskan.
Rita butuh sebuah pelepasan. Dia gerakkan tangannya turun menuju kelentitnya dan mulai menggesek. Dia pejamkan matanya dan dengan diiringi perasaan bersalah dia berkhayal tentang Roni. Dengan tangan yang satunya, dia remas buah dadanya. Dia membayangkan Roni menyutubuhinya dengan penis besarnya. Namun rasa bersalahnya semakin bertambah besar melebihi birahinya. Dia rubah fantasinya pada seorang pria yang mencoba mendekatinya di malam sebelumnya. Dia dan Joni tengah singgah di sebuah bar untuk minum dan saat Joni pergi ke kamar kecil, pria itu mendekatinya. Dia perkenalkan namanya, Gery. Rita coba acuhkan usaha pria tersebut, tapi itu sebelum dia amati Gery memiliki bahu yang bidang dan wajah yang jantan. Saat Gery melangkah pergi, dia berhasil meremas pantat Rita sekilas dan juga memepetkan tubuhnya, membuat Rita merasakan miliknya yang keras dan besar. Rita bayangkan Gery memaksanya ke sebuah pojok ruangan di bar tersebut yang gelap dan mulai mencumbunya. Rita semakin merasa birahinya menggelegak nakal, dia tambahkan Joni ke dalam fantasinya. Joni sedang mengerjai anusnya, sedangkan Gery menggasak vaginanya. Tidak, itu tak mungkin terjadi, batin Rita. Lalu dia rubah fantasinya menjadi, Gery menggoyang vaginyanya dan Joni menjilati kelentitnya. Ya, itu lebih nyata, pikirnya dan jemarinyapun bergerak semakin cepat pada kelentitnya sendiri.
Sejenak berikutnya Rita raih orgasmenya. Tapi biarpun itu memberikannya sebuah kenikmatan, dia masih merasakan tak terpuaskan. Rita menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia merasa begitu frustrasi, dia merasa ingin menangis.
Terdengar bunyi telpon berdering. Rita menjawabnya, mengira itu dari Joni. Tapi ternyata itu Roni.
“Hanya ingin tahu gimana kabarmu,” Roni memulai. “Sarah sedang pergi ke rumah orang tuanya akhir pekan ini. Joni mana?”
Rita tahu alasan Roni menelponnya. Untuk beberapa bulan belakangna dia masih mampu menolaknya, tapi dia teramat sangat membutuhkannya. Dia tak ingin berselingkuh lagi. Dia tak mau menghianati Joni. Tapi hasratnya tak kunjung reda. Dengan perasaan benci yang begitu besar pada dirinya sendiri, dia berkata, “Di mana kita bisa ketemu?”
Joni naik ke pesawatnya. Dia merasakan begitu banyak emosi yang berkecamuk dalam dadanya.
Dia merasa curiga bahwa Rita punya affair dengan Roni cukup lama. Saat mereka kira dia tak melihat, kadang dia saksikan Roni menyentuh Rita dengan begitu intim. Belaian singkat di paha atau pantatnya, kadang sebuah senyuman penuh makna yang berlanjut dengan remasan pelan di buah dada Rita. Rita selalu mendorong Roni menjauh, tapi dia tak pernah marah dan tak pernah mengatakan semua itu padanya.
Joni mulai memperhatikan semua itu. Kadang, saat Rita pulang kerja, dia bisa mencium bau parfum Roni di rambut Rita. Kadang sepulang dia pergi belanja atau nonton film dengan Roni, dia temukan stockingnya di tempat sampah, ada bekas bercak-bercak.
Sangat mudah baginya untuk menyewa seorang detektif pribadi untuk menyelidiki Rita. Memang mahal biayanya, Tapi dia punya uang lebih di tabungan pribadinya. Dia merasa tak enak sudah menyuruh orang untuk membuntuti Rita, tapi dia harus tahu kebenarannya.
Joni mengamati foto-foto di tangannya. Semuanya dengan kualitas tinggi dan semuanya membuktikan kecurigaan Joni.
Masih memandangi fot-foto tersebut, Joni bertanya, “Dan kamu juga punya videonya?”
Sang detektif sewaan menunjuk pada sebuah amplop yang diletakkan di atas meja Joni. “Ya, aku punya. Mereka pergi ke sebuah hotel, tapi gordennya sedikit terbuka. DVDnya ada di dalam amplop bersama beberapa foto lagi.”
Joni memberikan setumpuk uang pada sang detektif. “Ini seperti yang kujanjikan. Akan kuurus sendiri dari sini.”
Setelah sang detektif pergi, Joni mengunci pintu kantornya. “Lisa, tahan semua telpon untukku,” ucapnya ke sebuah intercom. Dia buka amplop tersebut, dia singkirkan foto-fotonya dan menghubungkan DVD ke televisi.
Video itu dibuka dengan adegan Rita berdiri di depan Roni, yang sedang duduk di pinggiran ranjang. Blus yang dipakainya terbuka dan Roni tengah asik mencumbui buah dadanya. Joni bisa menyaksikan kalau Rita memakai salah satu bra berenda miliknya. Roni meremasi buah dadanya dan menghisap kelentitnya yang terbuka. Joni menyaksikan saat tangan Roni bergerak dari buah dada Rita menuju ke pantatnya dan masuk ke dalam roknya. Tangan Roni bergerak di dalam rok Rita menuju pantatnya, menyingkapkan naik roknya melewati paha. Joni menyaksikan Rita mengenakan garter belt berenda dan sebuah thigh high stocking berwarna hitam. Roni meremasi bongkahan pantat Rita yang kencang. Dia sama sekali tak memakai celana dalam. Kemudian Roni mengarahkan tangannya menuju vagina Rita. Joni saksikan saat Roni mulai memasukkan satu jari dan disusul dua jari ke dalam vagina Rita. Jeari-jari Roni terlihat mengkilat oleh cairan, tampak nyata bahwa Rita sudah basah kuyup. Saat jari-jari Roni menyetubuhinya, ibu jari Roni tiada henti menggesek kelentit Rita.
Kedua mata Rita terpejam dan kepalanya terayun dari sisi ke sisi. Dia tenggelam dalam birahinya dan kedua kakinya yang memaki high heel terlihat mulai goyah. Jika saja tangan Roni tak menahan pantatnya, mungkin Rita akan jatuh tersungkur.
Rita terlihat mengucapkan sesuatu, begitu pelannya hingga sulit bagi Joni untuk dapat mendengarnya. “Fuck me, fuck me,” ucap Rita berulang-ulang.
Roni menarik tangannya menjauhi vagina Rita dan dia turunkan resleiting celananya, lalu menurunkannya hingga mata kaki. Dia pegangi batang penisnya dalam genggaman tangan.
Joni tak bisa mempercayai ukuran penis milik Roni. Bukan saja panjangnya, tapi juga besarnya. Joni kira penis berukuran seperti itu hanya ada dalam film-film biru saja.
“Ini yang kamu inginkan?” tanya Roni, mendesaknya.
Rita menunduk. “God, yes,” desahnya. “Aku sangat menginginkannya.” Tangannya meraih dan mulai mengocoknya.
Tangan Rita menggapai ke belakang dan dia buka pengait roknya, membiarkannya jatuh ke atas lantai. Dia dorong tubuh Roni ke atas ranjang dan mulai menaikinya. Tangannya menggapai ke bawah dan membimbing Roni ke belahan vaginanya. Roni terus menggoda Rita. “Kamu sangat ingin ini, kan?”
Rita mendorong ujung kepala penis besar tersebut membelah tubuhnya. “Oh god yes,” dia mengerang. Dia pejamkan matanya rapat saat dia turunkan tubuhnya ke Roni. “Aku sangat butuh ini.”
“Joni nggak mampu memuaskanmu, benar kan?”
Dengan berusaha susah payah untuk memasukkan batang penis Roni lebih jauh lagi ke dalam tubuhnya, dengan tersengal Rita berusaha menjawab diantara nafasnya yang berat, “Dia – nggak punya – sesuatu – yang cukup – untuk diberikan padaku.”
Terlihat memakan waktu yang cukup lama bagi Rita untuk memasukkan seluruh batang penis Roni ke dalam tubuhnya. Lalu mulailah dia menggerakkan tubuhnya naik turun dengan pelan. Gerak persetubuhan mereka semakin meningkat cepat dan tak lama kemudian semakin bertambah cepat saja. Setiap kali Rita menekan ke bawah, Roni dengan penuh tenaga mendorong ke atas menyambutnya tanpa ampun, membuat Rita terpekik setiap kalinya. Rita menarik tubuhnya hingga hanya tinggal kepala penis Roni saja yang terjepit vaginanya, lalu dia hempaskan turun dengan keras lagi.
Desah lenguhan Rita terdengar tanpa henti dan wajahnya menggambarkan ekspresi kenikmatan yang seutuhnya. Belum pernah Joni melihat kekasihnya seperti ini. Kelihatannya belum pernah sekalipun dia memberikan kenikmatan seperti ini padanya.
Rita menarik tangan Roni ke dadanya, tapi blus dan bra yang masih dia kenakan menghalangi. Dengan cekatan dia lucuti semua kancing blusnya dan menjatuhkannya ke atas lantai. Branya menyusul berikutnya dan sekali lagi dia bawa tangan Roni ke dadanya. “Pilin putingku!” pintanya. Roni lakukan yang dia minta. Kala Roni terus memainkan puting buah dada Rita, Roni saksikan kekasihnya membelai dada bidang dan lengan kekar milik Roni. Kemudian Rita tepiskan lengan Roni ke samping dan dia menunduk untuk mencium Roni. Dapat Roni lihat dari tonjolan di pipi mereka, kalau keduanya tengah saling menjelajahi mulut masing-masing.
Rita lepaskan ciumannya dan merintih, “Aku hampir keluar!” Joni saksikan wajah Rita diselimuti kenikmatan seluruhnya saat gelombang orgasme menguasai sekujur tubuhnya. Saat di puncaknya, punggung Rita meregang ke belakang dan kuku-kuku jarinya menancap erat di dada Roni. Roni biarkan Rita rehat beberapa saat, lalu dia balikkan tubuh Rita hingga sekarang berada di bawah tindihan tubuhnya.
Joni saksikan Roni tiada henti menyetubuhi Rita dalam 15 menit berikutnya. Terlihat Rita mendekati orgasme berikutnya. Gerakan Roni semakin cepat dan tak beraturan, dia menggeram keras, “Aku akan keluarkan di dalam!” Tepat saat Roni mengucapkan itu, orgasme Rita meledak, dia kaitkan kakinya melingkari pinggang Roni, menariknya lebih jauh ke dalam tubuhnya.
Roni menggeram sekali lagi dan Joni tahu kalau dia sedang berejakulasi di dalam rahim kekasihnya. Setiap kali dia memompa diiringi oleh geram jeritannya. Rita mulai terdengar meraungkan rintihannya saat wajahnya diselimuti aura kenikmatan sekali lagi, menggambarkan ledakan orgasme yang dia raih sekali lagi.
Tubuh keduanya saling bertindihan untuk beberapa menit kemudian, hingga Rita mendorong tubuh Roni menyingkir dari atas tubuhnya. Dengan enggan Roni mencabut batang penisnya dan berguling ke samping. Rita memeluk bantal dan mulai terisak.
Roni coba merengkuh bahunya, namun Rita menepisnya. Masih tetap menangis, dia berlari menuju kamar mandi. 10 menit berikutnya Joni dengarkan suara air shower. Saat Rita muncul, dia terlihat begitu segar setelah mandi dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Matanya masih terlihat merah sehabis menangis.
Dia duduk di pinggir ranjang, wajahnya dia tutupi dengan kedua tangannay dan mulai menangis. “Aku harus hentikan ini semua,” isaknya. “Aku mencintai Joni. Aku nggak mau menghianatinya lagi.”
Roni terlihat tak bergeming oleh kesedihan Rita. Dia tetap rebah di ranjang dan mulai menyalakn sebatang rokok. Batang penisnya kini melemas, tapi masih saja terlihat begitu besar di selangkangannya. “Rita, biar bagaimanapun kamu harus menerimanya. Joni nggak akan pernah bisa memberikan apa yang kamu mau.”
Rita menoleh ke arah Roni dengan menantang. “Aku mencintainya!” tekannya.
Roni memegang batang penisnya sendiri dan mulai mengocoknya. Batang penisnya meuali mengeras kembali. “Ini yang kamu inginkan, Rita. Hal ini tak akan pernah berubah denganmu. Aku nggak bilang kalau harus denganku. Tapi aku sangat mengenalmu. Kamu butuh penis besar dengan teratur. Kamu sangat menginginkannya. Kamu nggak akan bisa bahagia dengan Joni si penis kecil.”
Mata Rita berkilat marah. “Diam, bajingan! Jangan memanggilnya begitu!” Rita biarkan handuk yang melilit tubuhnya jatuh ke lantai dan mulai memakai rok dan blusnya, lalu memasukkan lingerienya ke dalam tas kecilnya. Sambil memakai high heelnya, dia berucap, “Dan nggak perlu repot menelponku. Nilai lebih dari persahabatan kita ini sudah berakhir. Dan persahabatan kita yang sesungguhnya akan benar-benar berakhir kalau kamu coba ucapkan sesuatu yang seperti itu lagi.”
Roni tertawa dan mendekati Rita. “Ayolah, kamu tahu kalau aku hanya bercanda. Aku suka Joni. Aku hanya ingin kamu bahagia.” Dia bergerak ke belakang Rita dan menekankan batang penisnya yang keras ke pantat Rita. “Aku tahu kalau kamu nggak akan bisa bahagi dengan Joni. Aku nggak ada persoalan pribadi dengan Joni. Seperti yang aku bilang, aku suka Joni. Hanya saja dia nggak punya barang seperti.” Roni menciumi leher Rita dan merangkulkan tangannya melingkari tubuh Rita, lalu dia tangkap buah dadanya. Dia susupkan tangannya memasuki blus Rita dan memilin putingnya yang langsung saja mengeras. “Kamu nggak akan bahagia bersama Joni. Dia nggak tahu bagaimana cara menyentuhmu, seperti yang kulakukan.”
Rita coba melepaskan diri. “Nggak, Roni, hubungan kita sudah selesai.”
“Kamu nggak serius.” Roni menggapai ke bawah dan menaikkan ujung rok Rita. Dia jepitkan penisnya di antara paha Rita yang panjang dan indah. “Kamu menginginkan ini.” Rita membuka pahanya secara naluriah dan dia tercekat saat ujung kepala penis Roni menyentuh bibir vaginanya. “Kamu butuh ini.”
Rita ingin pergi, tapi tubuhnya sendiri menghianatinya. Terlalu banyak malam yang penuh dengan ras frustrasi dan seks yang tak memuaskan bersama Joni. Birahinya yang membuncah membuatnya mendidih dan seks sebelumnya tadi dengan Joni belum mampu meredakan itu semua. Berkebalikan dengan rasa jengkelnya terhadap Roni, dia rasakan tubuhnya merespon Roni.
Joni saksikan Rita melemparkan kepalanya ke belakang dan Roni mendorong lidahnya memasuki mulut Rita yang menunggu. Roni berhasil melucuti semua kancing blus Rita dan langsung memainkan buah dada beserta putingnya. Rita menggapai ke bawah dan coba membimbng batang penis Roni untuk memasukinya. Tapi keduanya kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke atas kasur. Kemudian Roni mulai memasukinya dari belakang, langsung menguburkan seluruh batang penisnya dalam sekali dorongan. Untuk 20 menit berikutnya, Roni menyetubuhi Rita dengan bermacam variasi posisi, memberi Rita dua kali ledakan orgasme lagi. Rita tak melawan saat Roni keluarkan air maninya di dalam vaginanya lagi.
Joni hentikan DVD tersebut. Begitu banyak konflik emosional yang berkecamuk dalam kepalanya. Tapi ada sesuatu yang harus dia lakukan, segera. Dia putar ulang video tersebut dan menyalakannya lagi di saat bagian di mana Roni berkata, ” Joni nggak mampu memuaskanmu, benar kan?”
Kemudian Joni keluarkan batang penisnya yang sudah demikian keras dan mulai mengocok penisnya sendiri.
Beberapa minggu kemudian…
Rita mengocok batang penis Roni dengan pelan. Dia sudah tak mau lagi mencoba menolak apa yang dibutuhkan tubuhnya. Dia memang telah jatuh cinta pada Joni, tapi tetap saja dia butuh tubuh kekar dan penis besar milik Roni. Selalu saja dia merasa bersalah setelahnya, tapi dia tak mampu mencegah dirinya, apalagi dengan Roni yang selalu saja ‘menyerangnya’ setiap saat.
Dia amati penis dalam genggaman tangannya, terpukai dengan panjang dan besar ukuran batangnya. Terlihat indah dan menakutkan disaat yang bersamaan. Saing besarnya, genggaman tangannya tak bisa menggenggam sepenuhnya dan saking panjangnya membuat dia selalu saja tak percaya bahwa dia bisa memasukkan itu semua dalam tubuhnya. Buah zakarnya begitu kencang dan besar, yang membuatnya masuk akal karena Roni selalu berejakulasi begitu banyak.
Roni menyeringai melihat Rita. “Kamu memang sangat sayang sama penisku, ya?”
Rita tak menjawab, sebagai responnya batang penis dalam tangannya tersebut dia masukkan ke dalam mulut.
Tapi Roni mendorongnya menjauh. “Jawab pertanyaanku, Mil,” perintahnya. “Kamu memang sangat cinta sama penis besarku, kan?”
“Kamu tahu aku cinta,” Rita merajuk dan dia masukkan lagi ke dalam mulut.
“Gimana rasanya saat Joni menyetubuhimu, setelah kamu bersamaku? Apa mungkin kamu bisa merasakan penisnya di dalammu?”
Rita melirik Roni dengan pandangan jengkel, tapi kemudian dia menunggangi Roni dan mengarahkan ujung penis Roni ke vaginanya. “Jangan bertingkah brengsek. Setubuhi saja aku.”
Roni dorongkan seluruh batang penisnya memasuki Rita. “Begini?”
“Uhhh, god, ya, begitu,” Rita menggeram.
Roni tarik keluar dan kemudian dengan cepat menusukkan masuk kembali. Bersamaan dengan itu dia pilin puting Rita. ” Begini?”
Rita tangkup tangan Roni dengan tangannya sendiri, mengarahkan cumbuannya. Dia pejamkan mata serapat mungkin saat Roni semakin mempercepat tusukannya dengan intens. “Lebih keras – dorong – lebih – keras.”
“Kalau Joni melamarmu, apa kamu terima?”
“A – aku rasa iya,” Rita berusaha menjawab di sela sengal nafasnya, begitu larut oleh persetubuhan kasar yang diterimanya. Da sudah begitu dekat.
“Tapi aku masih boleh menikmati tubuhmu, kan?”
“Uhhh – aku – aku belum tahu.”
Roni dapat merasakan Rita sudah hampir sampai. Dia mengocoknya tanpa ampun, menggesekkan penis besarnya pada titik g-spot Rita dibarengi dengan memilin puting Rita tiada hentinya. Rita menjerit lepas dan tubuhnya menegang saat dia raih puncak kenikmatannya.
Rita ambruk di dada Roni. Dia terus mengocok Rita dengan gerakan pelan dan panjang. Selang beberapa menit Rita merasakan birahinya bangkit kembali. “God, dia sungguh hebat,” batinnya.
Seakan bisa membaca pikirannya, Roni bertanya kembali, ” Aku masih boleh menikmati tubuhmu, kan?”
Rita merasakan ribuan kupu-kupu menari di perutnya dan terus mengembara ke setiap sendi perasanya. Roni sungguh membuatnya mabuk kenikmatan. Tapi dia tak menjawabnya, dia tak tahu harus menjawab apa dan tak mau menghianati Joni lebih jauh lagi.
Roni tersenyum dalam hati. Rita tak perlu menjawab, dia bisa merasakan dari setiap gerak tubuhnya bahwa dia bisa mendapatkan tubuh Rita kapanpun dia mau. Itu sangat hebat, karena Rita adalah wanita paling seksi yang pernah dia kenal dan dia sangat suka menyetubuhinya, terlebih lagi sekarang ini sejak kehidupan seksnya dengan Sarah mulai terasa membosankan.
Rita tiba di rumah begitu larut malam itu. Joni sudah menunggunya di atas ranjang.
“Hai, sorry aku terlambat, kerjaan di kantor menahanku lebih lama dari yang kuperkirakan,” dustanya. “Aku mau langsung mandi sebentar.” Dengan sigap Rita melepas pakaiannya dan langsung menutup pintu kamar mandi.
Joni turun dari ranjang dan mengambil pakaian Rita dari keranjang pakaian kotor. Dia dekatkan blous tersebut ke hidungnya. Bisa dia cium aroma cologne Roni di situ. Dia periksa stocking Rita yang tergulung hingga lutut. Lalu dia pungut celana dalam Rita. Jemarinya menelusuri permukaan kain sutera berenda tersebut. Bagian selangkangannya basah. Dia mengartikannya bahwa Rita membiarkan Roni keluar di dalam lagi.
Rita tak memakai birth control. Joni tahu kalau dia lebih memilih untuk mengatur periode masa suburnya. Pil birth control akan membuat berat tubuhnya melonjak naik. Joni tak keberatan. Selama masa ‘amannya’ Rita memperbolehkannya keluar di dalam. Saat dia dalam periode subur, Joni memakai kondom, atau lebih seringnya, mengeluarkannya di luar.
Tapi Joni tahu kalau sekarang bukanlah periode bulan ‘aman’ bagi Rita. Tapi juga bukan periode yang paling subur, tapi ini sangatlah beresiko tinggi. “Apa dia nggak khawatir hamil?” pikirnya.
Joni merasa cemburu dan sakit. “Roni punya penis yang lebih besar dibanding aku, dia lebih membuatnya puas,” batinnya. “Dia lebih memilihnya daripada aku. Dia biarkan Roni menidurinya setiap saat dan membiarkannya keluar di dalam. Mungkin dia mau denganku karena Roni sudah menikahi wanita lain. Mungkin dia berharap Roni menghamilinya dan dia bisa memakai bayinya agar Roni meninggalkan Sarah dan menikahinya.”
Joni merasa tercampakkan. Dia mencintai Rita. Dia wanita yang sempurna. Rambut indahnya, wajahnya yang secantik foto model, buah dada yang berukuran tepat, perutnya yang rata dan pantatnya yang demikian kencang serta sepasang kakinya yang menakjubkan. Begitu jenjang dan halus mulus seakan sepasang kaki boneka.
Joni mencintainya dan tak ingin kehilangannya. Tapi kini Joni sudah kehilangan dia. Rita lebih memilih Roni di ranjang dari pada memilihnya.
Dia merasa nafasnya menjadi berat. Untuk sebuah alasan, bayangan Rita bersama Roni membuatnya terangsang. Dia kesal pada dirinya karena perasaan tersebut. Bagaimana bisa Rita tidur dengan pria lain bisa membuatnya terangsang? Tapi itulah yang terjadi.
Merasa jijik pada dirinya sendiri, Joni menggapai ke bawah dan mengeluarkan batang penisnya. Dia mulai bermasturbasi. Dia pejamkan mata dan membayangkan adegan dalam DVD Rita dengan Roni. Dia mengingat Roni yang mencumbui buah dada Rita dan jarinya yang menelusuri thigh high suteranya. Dia mengingat bagaimana Rita yang membalas lumatan bibir Roni dengan begitu bernafsu. Dia mengingat bagaiman ujung tumit sepatu Rita yang tertancap di pantat Roni yang berotot kala dia menggoyangnya. Saat itulah Joni berejakulasi, menyembur pada selembar tisu.
Dia rebah ke atas ranjang. Perasaannya begitu berkecamuk, cemburu dan perih bercampur dengan rangsangan birahi. Tapi yang dia tahu dan sangat meyakininya, dia mencintai Rita.
Rita naik ke atas ranjang dan meringkuk dalam pelukan Joni yang menunggunya. “I’m sorry I’m so late,” ucapnya lagi.
“That’s okay,” jawab Joni. Dia mencium lembut bibir Rita. “I really love you. Do you love me?”
Rita memeluk Joni semakin erat. “Tentu saja aku sangat mencintai kamu.”
Joni menggapai ke belakang tubuhnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia membukanya, mengeluarkan sebuah cincin tunangan berhiaskan permata dari dalamnya.
“Rita, will you marry me?”
“Coba lihat cincinnya,” kata Sarah. Dengan tersenyum, Rita mengangkat tangan kirinya. “Oh my god, berliannya sangat besar!”
Joni berkata dengan tersenyum, “Ayolah, keretanya sudah datang.” Kedua pasangan tersebut naik ke dalam kereta. Mereka sedang dalam perjalanan menuju pesta, yang diadakan untuk merayakan pertunangan Joni dengan Rita. Mereka memilih naik kereta karena lalu lintas ke arah kota sangat macet.
“Roni, kamu lihat tadi berlian yang diberikan Joni untuk Rita?” Sarah bertanya pada suaminya. “Sangat besar!”
Roni tersenyum dan mengangguk. Tapi dia membatin dalam hati, “Aku tahu apa yang diharapkan Rita berukuran besar.” Sembari memikirkan itu, mata Roni menatap tajam pada mata Rita dan dia jadi merona. Roni tersenyum, menyadari mereka memikirkan hal yang sama.
Seiring penumpang yang semakin memenuhi kereta, Rita dan Roni terpisah dengan Joni dan Sarah. Mereka sebenarnya terpisah hanya beberapa meter saja, tapi terhalang oleh orang-orang disekelilingnya. Rita dan Joni masih bisa saling melihat wajah, tapi tak lebih dari itu. Roni menggapai ke bawah dan menyentuh cincin pertunangan Rita. “Oh, baby, ini sangat besar,” godanya. “Apa ini bisa membuatmu puas?”
Rita hampir mulai memelototi Roni, tapi dia lalu ingat kalau Joni bisa melihatnya dan dia tak mau nanti harus menjelaskan kenapa dia marah pada Roni. Dia paksakan memasang sebuah senyuman di wajahnya dan berkata, “Diam, brengsek. Apa nggak bisa kamu merasa bahagia untukku? Aku akan menikah.”
Tangan Roni bergerak ke paha Rita. Di dalam kereta sangat ramai beredesak-desakan, tak seorangpun bisa melihat apa yang dia lakukan. Dia susuri garter strap Rita dari luar roknya. “Oh, aku senang, sangat senang,” kata Roni dengan senyum iblisnya. “Sekarang aku bisa tidur dengan tunangan pria lain dan sebentar lagi jadi isteri pria itu.”
“Itu nggak mungkin terjadi,” jawab Rita dan dia coba tepiskan tangan Roni menjauh. Tapi Roni tetap memaksa dan Rita tak bisa melakukan tindakan yang akan memancing kecurigaan Joni dan Sarah. Roni menyadari kebingungannya tersebut dan semakin menekan kesempatannya. Dia gerakkan tangannya ke dalam rok mini Rita dan ujung jarinya mulai membuat gerakan melingkar di paha Rita. Jemari Roni terus bergerak naik hingga dapat dia sentuh permukaan kulit Rita di atas pangkal stockingnya dan hampir saja Rita terlonjak kaget saat jemari Roni menyerempet celana dalamnya.
“Kamu sudah basah,” komentarnya dan Rita tahu bahwa Roni memang benar. Rita telah berhasil menjauh dari Roni sejak bertunangan. Dia sangat ingin setia pada Joni. Tapi itu suara hatinya. Tubuhnya memegang kendali sekarang ini dan merindukan untuk disetubuhi dengan kasar oleh sebatang penis yang berukuran besar. Dia sungguh mencintai Joni, tapi Joni tak mampu memberi apa yang diinginkan tubuhnya.
“Jangan goda aku,” dia memohon.
Roni masih menyeringai, jarinya beringsut memasuki celana dalam Rita dan menyentuh kelentitnya. “Oh, aku minta maaf, apa aku menggodamu?”
“Bajingan kamu!” umpat Rita dengan marah. Tak lagi peduli apakah Joni dan Sarah mungkin melihatnya, dengan kasar dia dorong Roni menjauh. Untung saja, kereta dalam keadaan penuh hingga Joni dan Sarah tak melihatnya. Dalam sisa perjalanan tersebut, Rita menjaga jarak dari Roni, namun godaan Roni tadi telah membuat rasa gatal dalam vaginanya serasa makin tak tertahankan. Rita berusaha mengacuhkan itu, dia berjanji pada dirinya bahwa di pesta nanti dia akan menjauh dari Roni.
Saat akhirnya kereta tersebut berhenti, Joni langsung mendekati tunangan barunya dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja. Rita meyakinkannya bahwa semuanya baik saja. Joni melirik ke arah dada Rita. Putingnya begitu mencuat keras hingga hampir terlihat samar dari balik blousenya. Rasa marah menggelegak dalam diri Joni begitu dia menyadari apa yang sudah diperbuat Roni. Dia merasa dilecehkan, meskipun, dia juga merasakan selangkangannya jadi sesak membayangkan apa yang dilakukan Roni terhadap tunangannya.
Disepanjang pesta tersebut, Joni terus merasakan birahinya membara dan langsung saja dia seret Rita ke dalam kamar begitu mereka tiba di rumah. Tapi karena terlalu tinggi birahinya, hingga hanya dalam beberapa sodokan saja dia sudah lansung ejakulasi.
Joni gulingkan tubuhnya dari atas Rita dan langsung terlelap. Percintaan mereka semakin memburuk dibandingkan biasanya, semakin membuat birahi Rita tak terpuaskan. Dengan jemari yang gemetar, tangannya bergerak ke bawah tubuhnya dan mulai mencari pelepasan sendiri. Dia butuh pelepasan, meskipun tahu itu tidaklah cukup.
Rita melihat sekelilingnya dengan grogi dan dengan cepat melangkah masuk ke dalam toko tersebut. Dia tak mau terlihat oleh seseorang yang mengenalnya. Dengan malu-malu dia amati barang yang terpajang, hingga akhirnya dia temukan apa yang dicarinya. Dia melangkah ke bagian belakang sex store tersebut dan mengamati semua ragam dildo yang dijual.
Harus dia temukan solusi untuk masalahnya. Dia ingin untuk tetap setia pada Joni. Dia mulai membenci Roni yang telah bersikap begitu memuakkan dan memperlakukannya seakan hanyalah sex toynya belaka. Mungkin dia memang pantas mendapatkannya, tapi dia mantapkan hati untuk tak akan menemui Roni lagi.
Namun tubuhnya tak bisa memungkiri. Joni memang bisa memberinya segalanya selain kebutuhan seksualnya. Bukan hanya masalah ukuran belaka. Joni bukanlah seorang pecinta yang pintar dan Rita sudah merasa pasrah dengan apa yang bisa Joni berikan.
Rita membutuhkan kepuasan, terpuaskan oleh batang yang besar dengan keras dan kasar. Dia putuskan untuk membeli sebuah dildo. Dia belum pernah punya sebelumnya, tapi dalam kondisi seperti ini, dia sudah terbuka dengan segalanya.
Dengan cepat Rita temukan yang dia mau. Keduanya berukuran besar serta panjang. Yang satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam. Belum pernah dia tidur dengan pria kulit hitam, tapi dia sudah dengar dengan semua gosip tentang itu.
“Aku rekomendasikan yang hitam,” ucap sebuah suara dari belakangnya. Rita sangat terkejut dan hampir saja dia terlonjak. “Maaf, aku nggak bermaksud mengejutkanmu.” Rita menoleh dan melihat seorang pria paruh baya. Pria ini adalah penjaga toko yang Rita lihat saat dia masuk ke dalam toko ini tadi. Tubuhnya gemuk dan rambutnya dihiasi sedikit uban serta wajahnya terlihat rusak oleh bekas jerawat.
“Wanita berkulit putih, apalagi bertubuh kecil sepertimu, banyak yang suka itu. Itu fantasi yang populer. Interacial?”
Rita tak bisa percayai kelancangan pria ini. Ingin dia segera terbang keluar dari toko tersebut…
“Dan pria hitam biasanya memang banyak yang punya ukuran sebesar itu,” lanjut sang pria, menjunjuk ke arah dildo hitam yang berukuran besar. “Tentu saja, punyaku nggak terlalu jauh juga.”
Oh my god, apa pria tua menjijikkan ini sedang berusaha merayuku? Sebelum Rita menjawab, si pria kembali berkata, “Kamu tahu, kami baru saja dikirimi sebuah film baru. Mutunya bagus. Aku bisa memutarnya, kalau kamu ingin lihat.”
“Oh, nggak, nggak usah. Aku harus pergi. Aku Cuma beli ini saja.” Rita mengambil dompetnya, tapi segera saja dia tersadar dalam kegugupannya tadi, dompetnya tertinggal di dalam mobil. “Oh, sial, dompetku ketinggalan.”
“Nggak masalah,” dengan cepat si pria menjawab, sebuah seringai terkembang di wajahnya. Tangannya terjulur dan memegangi bahu Rita. “Itu bisa di atur.” Rita tercekat mendapati pria tersebut begitu berani menyentuhnya. Apa dia coba menawarku? Sikap diam Rita diartikan si pria sebagai persetujuan untuk menyentuhnya. Tangannya bergerak menelusuri punggung Rita hingga pada pantatnya. Dia meremasnya.
Rita bergerak menjauh. “Jangan menyentuhku.”
“Kamu boleh ambil dildonya,” lanjut si pria. “Cuma angkat rokmu biar aku bisa lihat apa m*m*kmu botak nggak.”
“Gila kamu, aku keluar.”
Rita berbalik untuk pergi tapi si pria mencengkeram tangannya. Dia tunjuk dada Rita. “Ayolah, aku tahu kamu mau.”
Rita terhenyak saat dia menunduk. Putingnya sudah mengeras dan mencuat ke depan dari balik bra dan blousenya. Tiba-tiba dia tersadar kalau dia telah terangsang. Oh my god, pria menjijikkan ini membuatku terangsang. Sekali lagi, si pria menganggap sikap diam Rita sebagi tanda setuju untuk disentuh. Dia bergerak mendekat dan menekan selangkannya ke paha Rita. Si pria sudah ereksi. “Kamu yang menyebabkan ini.” Si pria semakin menekan keras. “Sudah kubilang k*nt*lku besar. Kamu suka yang besar, kan?” Si pria gendut meremas pantat Rita. “Wah, pantatmu sangat kencang.” Tangan si pria yang satunya lagi menangkup buah dada Rita. Cuma meremasnya dari luar pakaian Rita tidaklah cukup bagi si pria, lalu dengan lihai dia lepas kancing blous Rita dan melepas kaitan branya dan langsung meremasi buah dada Rita yang telanjang.
Tangan si pria yang menyentuh dada telanjangnya menyentakkan Rita dari alam bawah sadarnya dan langsung dia dorong si pria menjauh. Dia lari keluar dari toko tersebut. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju secepat yang dia bisa. Setelah beberapa mil barulah bisa dia atur nafasnya yang memburu. Dia betulkan kembali pengait branya dan mengancingkan kembali blousnya, kemudian dia pandangi dirinya di kaca spion depan. Aku sudah berubah jadi apa? Apakan di dahiku ada tulisan ‘aku horny’?
Vaginanya berdenyut dan putingnya masih tetap keras. Meskipun merasa malu, dia menyadari bahwa si pria tua gendut tadi telah membuatnya terangsang. Oh god, aku sungguh ingin dipuaskan. Dia lihat sekelilingnya. Tak ada seorangpun. Dia buka kancing jeansnya dan tangannya menyusup masuk ke dalam. Dia pejamkan mata dan berhayal si pria gendut yang jelek tadi menyetubuhinya dengan penis besarnya.
Di dalam kamar kecil, dia bersandar ke dinding dan menarik nafas panjang. Apa yang kulakukan? Apa aku begitu gampangan? Aku sudah tunangan. Ayolah, kuatkan hatimu! Tapi, dia sudah sangat terangsang. Putingnya terasa sangat sensitif dan selangkangannya sudah basah kuyup.
Dia sudah memutuskan tak akan lari menghindar, dia tak mungkin lari setiap kali ada pria yang coba mengodanya. Dia hanya perlu kendalikan dirinya dan mengatasi situasi tersebut. Lagipula, Joni akan tiba sebentar lagi. Dia rapikan gaunnya, dengan tangan yang masih sedikit gemetaran, dia ambil lipstiknya.
Robert masih menunggu di tempatnya berada tadi dan bahkan dia sudah menyediakan sebuah kursi untuknya. Di atas meja bar, sudah menanti segelas minuman baru untuknya.
Rita berkata kalau dia ingin berdiri saja, tapi Robert mendesaknya. Akhirnya Rita menerima karena sepatunya sudah terasa agak menyakitkan, tapi dia khawatir bagaimana nanti posisi duduknya di atas bar stool tinggi itu. Dia turunkan ujung gaunnya, tapi kembali tersingkap setiap kali dia silangkan kaki. Jacque dengan terang-terangan menatap hal itu. Kemudian Robert perhatikan pangkal stocking yang dipakai Rita, yang mengintip dari balik ujung roknya yang tersingkap. Jacque membungkuk ke depan dan dia letakkan tangannya di paha Rita saat mereka berbincang.
Di tengah obrolan mereka, Robert gerakkan tangannya naik sedikit demi sedikit hingga berhenti di ujung rok Rita. Jemarinya mulai bergerak pelan di pangkal stocking itu. Rita menatap tangan Robert di atas pahanya, lalu kembali menatap Robert. Dia tak tahu kenapa dia tak menghentikannya. “Apa kamu bertugas untuk memesan lingerie juga?” akhirnya dia bertanya, sedikit ekspresi marah di wajahnya.
Robert tersenyum. “Aku ahli di semua busana berkualitas bagus, termasuk lingerie. Aku akan senang melihat apa lagi yang kamu pakai sekarang.”
Rita kaget dengan kegamblangannya. Robert mengingatkannya pada Roni. Keduanya sangat berani dan blak-blakan. Mereka berbeda juga. Roni sifatnya kasar dan arogan, Robert lembut dan ramah. Tapi ujungnya, mereka serupa. Mereka mengambil apa yang mereka mau. Mereka tak meminta. Mereka mengambilnya begitu saja.
Rita membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan Robert. Apakah sikap halusnya itu akan membuatnya berbeda dengan Roni? Dia membayangkan bagaimana jika, mendengar Robert menyebutnya binal dan jalang dengan aksen Perancisnya yang romantis. Bayangan tabu tersebut membuatnya merinding.
“Kamu kedinginan?” tanya Robert, tangannya menyentuh bahu Rita.
“Tidak,” jawab Rita cepat, dia merasa malu. “Cuma memikirkan sesuatu saja.”
“Baguslah,” jawab Robert sembari mengelus bahu telanjang Rita. “Kalau kamu kedinginan, aku akan merasa terhormat menawarkan jasku, tapi akan membuatku kecewa kalau kamu menutupi bahumu yang indah.”
Rita tersipu. “Ingat, aku sudah bilang dan tunanganku aku tiba sebentar lagi.” Untuk menguatkan ucapannya, dia angkat tangan kirinya, menunjukkan cincin tunagannya pada Robert.
Robert mendekat pada Rita, pura-pura mengamati cincin tersebut. Rita merasakan ereksi Robert menekan ke pahanya.
Puluhan kupu-kupu serasa terbang menggelitik dalam perutnya. Dia semakin kuyup. Dia berusaha meraih gelas minumannya dan langsung dia teguk lagi, hanya itu yang mampu dia lakukan untuk untuk menenangkan diri, menutupi gemetar tubuhnya. “Kamu benar-benar percaya diri, ya?”
“Aku cuma mengamati cincinmu.” Robert kembali memegangi tangan Rita, berlagak lugu. “Seperti yang kubilang, ini sangat indah.” Kemudian dengan lembut namun mantap, dia bimbing tangan Rita ke pahanya sendiri dan kemudian Robert menata posisi duduknya hingga ereksi penisnya bersentuhan dengan tangan Rita. “Ukurannya besar,” ucapnya dengan tersenyum.
Rita tersipu saat tangannya menyentuh selangkangan Robert. Terasa besar dan begitu keras. Jantungnya berdegup liar dan nafasnya terasa berat. “Kamu nakal,” ucapnya, memalingkan muka untuk menghindari tatapan tajan mata Robert.
Robert mengangkat kedua tangannya berlagak menyerah. “My dear Rita, ucapanmu membuatku sedih. Biarkan aku meluruskan, aku sedang membicarakan tentang berlianmu.”
Rita tertawa, dengan cepat dia tarik tangannya dari selangkangan Robert. Tubuhnya sedikit rileks. Robert mengambil kesempatan itu dan kembali meletakkan tangannya di lutut Rita, dengan sigap bergerak ke dalam roknya. Nafas Rita tercekat saat dia merasakan tangan Robert bergerak semakin naik. Dia menggigil saat jemari Robert menyentuh permukaan kulitnya di atas stocking. Jemarinya sangat dekat pada vaginanya dan tak dia sangsikan, Robert bisa merasakan kehangatan yang basah memancar dari pangkal pahanya. Puting buah dadanya semakin mencuat jelas dari balik gaunnya. Dia tak punya daya untuk menepiskan tangan Robert.
Oh my God, apa yang kulakukan? Batin Rita, merasakan jemari Robert semakin bergerak naik di balik roknya. Dia rapatkan kedua pahanya untuk hentikan perbuatannya. Robert tersenyum dan membungkuk ke depan, berbisik di telinga Rita, “Ikutlah denganku, kantorku di dekat sini.” Undangannya yang terus terang ditambah nafas hangatnya yang menghembus telinganya mengirimkan rasa dingin hingga ke sumsum tulang Rita.
Tolak ajakannya, dia perintahkan pada dirinya sendiri. Tampar mukanya dan jawab tidak. Tapi sebaliknya, dia dapati dirinya menjawab dengan lemah, “Tunanganku akan datang sebentar lagi.”
Seakan diberi isyarat, handphonenya berdering. Akhirnya Joni menelpon. Handphonenya ada di dalam dompetnya dan dompetnya ada di bawah. Dia membungkuk untuk mengambilnya dan saat melakukan itu dia harus meluruskan kakinya. Rita hampir saja menjerit saat tangan Robert bergerak semakin naik dalam roknya. Posisi mereka sangat berdekatan di tengah keramaian bar tersebut hingga mustahil ada seseorang yang menyaksikan apa yang sedang dilakukan Robert. Rita langsung membuka handphonenya dan berkata, “Hi, Joni?” Jemari Robert berhasil menyentuh vagina telanjangnya. Dia tak memakai celana dalam sebab gaunnya tersebut sangat ketat dan karena sekarang adalah ulang tahun Joni dan Rita tahu betul kalau Joni akan sangat terangsang jika tahu dia tak memakai celana dalam.
Dia lihat Robert tersenyum. Dia rasakan jemari Robert menjelajahi sepanjang bibir vagina tak berambutnya. Dia coba merapatkan kedua pahanya, tapi Robert tak bergeming. Dia tak mau membuat Joni curiga di seberang telpon, jadi dia biarkan saja seorang pria lain memainkan jemarinya di selangkangannya saat dia sedang bicara dengan tunangannya di telpon.
“Aku di bar,” ucapnya, saat dia rasakan jemari Robert meluncur di antara bibir vaginanya.
“Maksudku, uhhh” … Rita gigit bibirnya untuk meredam suara desahannya saat Robert mendorongkan satu jarinya masuk … “Maksudku, aku ada di bar di dalam resto.”
“Nggak, aku baik-baik saja, aku ahhh god” … Rita mengerang tak tertahankan ketika Robert menemukan kelentitnya … “Kamu di, uhhh, kamu” …Rita cengkeram lengan Robert, coba menghentikannya… “Kamu di mana?”
Robert tersenyum nakal melihat kondisi dan ketidak nyamanan Rita. Dia tusukkan jari lainnya ke dalam dan kemudian dia mulai mengocok sembari ibu jarinya menggelitik kelentit Rita. “Ahhh… maksudku… uhhh… itu” …Rita kesulitan berkata saat Robert terus mengocoknya… “Itu sayang sekali.”
“Apa… ahhh… apa?” tanya Rita, sulit rasanya konsentrasi di bawah serangan. Dia pejamkan matanya raat, mencoba mengacuhkan apa yang dilakukan Robert terhadapanya, tapi tak berhasil. “Hotel… ahhh… apa? Hotel XXX?” ucapnya di sela sengal nafasnya. “Kamar… uhhh… 403?”
Dia dorong lengan Robert sekuatnya tapi tetap saja dia tak mau berhenti. God, dia akan membuatku orgasme! Rita sadar kalau dia harus segera tutup handphonenya. “Ok, aku akan ke sana, bye,” semburnya dan langsung dia tutup handphonenya. Tak mungkin dia biarkan seorang pria asing membuatnya orgasme di tengah bar yang ramai. Dia rapatkan pahanya semampunya dan kembali dia dorong Robert. “Please stop,” rengeknya. “Please.”
Robert mengalah dan dia tarik tangannya. Dia usap jari basahnya dengan selembar serbet. Dada Rita berdebar keras. Dia butuh beberapa menit untuk mengatur nafasnya.
“Itu sangat jahat,” akhirnya dia bisa berucap.
Robert tersenyum, tapi tak menjawabnya. Sebaliknya, dia bertanya, “Aku artikan tunaganmu tak bisa datang kemari?”
Rita gelengkan kepala. “Sesuatu terjadi di kantor. Dia harus terbang ke luar kota.”
Senyuman Robert semakin melebar. “Jadi, dia tak akan pulang sampai besok.”
Rita tak menjawab. Jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya. Robert hampir membuatnya orgasme. Dia tadi sudah begitu dekat saat dia paksa Robert berhenti. Tubuhnya tebakar hebat oleh birahi.
“Apa maksud tunanganmu, soal hotel XXX?”
Rita merasa berat melanjutkan obrolan tersebut. “Hari ini ulang tahunnya,” akhirnya dia bisa berkata.
Wajah Robert berbinar mengerti. “Ah. I see. Dan tunaganmu sudah booking kamar di hotel XXX, lalu setelah dinner, kamu bisa membantunya merayakan ulang tahunnya? Kamar 403?”
Rita mengangguk, menghindari tatapan Robert. Dia tahu ke mana arahnya ini dan dia takut dengan apa yang mungkin dia lakukan. “lari!” dia perintahkan dirinya. “Kamu nggak boleh lakukan ini! Ini ulang tahun Joni, kamu nggak boleh lakukan!”
“Dan dia mengabarkan ini padamu, untuk apa? Untuk membatalkan bookingannya?”
Rita ragu, tapi akhirnya dia gelengkan kepalanya. “Sudah terlambat dibatalkan. Dia memintaku untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di kamar itu.”
Robert menyeringai. Tangannya kembali memegang lutut Rita. “Sangat sayang kalau menyia-nyiakan bookingan kamar di hotel XXX.”
Rita tutupi tangan Robert dengan tangannya, coba hentikan serangan Robert. “Please,” dia memohon dengan sisakekuatannya. Dia tak punya daya untuk mencegah ini terjadi, tapi mungkin saja Robert akan melakukan hal yang benar. “Aku sudah tunangan. Kami akan menikah bulan depan.”
“Rita, aku tak pernah punya maksud memaksamu, ataupun melakukan sesuatu yang tak kamu mau,” ucapnya dengan lembut, menenangkan. Dia tawarkan tangannya. “Aku hanya menawarkan untuk menemanimu ke kamar hotel itu. Aku akan benci kalau kamu ditemani pria lain manapun di bar ini, siapapun saja yang sudah menatapmu dengan lapar.”
Rita tak mampu bergerak. Tentu saja dia tak percaya Robert, tapi dia sungguh bingung. Tubuhnya terbakar hebat. Dia sungguh membutuhkannya. Beberapa saat berlalu. Akhirnya Rita dapati dirinya turun dari atas bar stool. Tapi ini serasa di luar kesadarannya. Rasanya bukan dirinya yang turun dari bar stool, itu orang lain, seseorang lain yang mirip dirinya. Bagaikan roh yang melayang di antara kerumunan orang, dia lihat dirinya memegangi lengan Robert. Dia saksikan dirinya dibimbing keluar oleh Robert dari bar tersebut, dengan canggung menoleh ke sekitarnya dan berharap tak dia lihat seseorang yang dia kenal.
Tapi luput dari pandangannya di ruangan tersebut, tak pernah dia lihat tunangannya, Joni bersembunyi di tengah kerumunan orang, menyaksikan semua gerakannya.
Robert menutup pintu kamar 403 dan langsung merengkuh Rita ke dalam pelukannya. Rita merasa bersalah memikirkan tunangannya Joni. Ini adalah hari ulang tahunnya, tapi bukannya merayakan bersamanya, dia malah akan menyerahkan dirinya pada pria lain. Tapi semua pikiran tersebut segera musnah kala Robert melumat bibirnya, dengan penuh gairah menjelajah mulutnya dengan lidahnya.
Rita sudah memututuskan untuk tidur dengan Robert ketika dia meninggalkan bar bersamanya. Meskipun sebelum pergi ke bar, gejolak birahi Rita sudah memuncak karena rasa frustrasi seksualnya, Robert yang mencumbunya dengan jemari hingga hampir membuatnya orgasme di bar tadi, semakin menyirami kobaran apinya dengan bensin saja. Perasaan bersalahnya akan dia pikir lagi nanti. Sekarang, dia butuh Robert untuk memadamkan kobaran api dalam tubuhnya.
Robert menggapai ke belakang tubuh Rita untuk menurunkan resleiting gaunnya. Rita hampir melompat mundur secara refleks saat Robert menurunkan spaghetti straps dari bahunya, tapi kemudian dia membiarkan gaunnya jatuh begitu saja ke atas lantai. Dia merasa jengah saat Robert melangkah mundur dan dengan ekspresi lapar memandangi lekuk tubuhnya. “My god Rita, you’re perfect,” ucapnya kagum. Lalu kembali Robert memeluknya, sepasang bibir menempel rapat, tangan Robert menangkup buah dadanya yang kecil namun kencang sempurna. Rita merasakan gundukan besar di celana Robert menekan keras perutnya.
Robert mendorong Rita ke atas ranjang dengan lembut. Dengan cepat dia lucuti pakaiannya sendiri, sebuah senyum penuh keyakinan diri terkembang di wajahnya. Dia miliki tubuh yang tegap dan kekar. Jantung Rita semakin berdetak kencang saat Robert mulai menurunkan celana dalamnya. Celana dalam itu sudah terlihat menggembung besar, tapi tetap saja membuat Rita jadi menahan nafasnya saat Robert mulai menurunkan celana dalamnya hingga paha. Rita nyaris terpekik saat dia melihat batang penisnya. Batang penis tergemuk yang pernah dia lihat. Mungkin tak sepanjang milik Roni, tapi tetap lumayan panjang dan begitu besar. Dan Robert tidak disunat, sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Rita merinding penuh gairah menyaksikannya dan kemudian dia jadi tersipu saat tahu Robert memperhatikannya dengan tersenyum.
Robert menyusul Rita ke atas ranjang dan tehnik yang dia miliki sungguh mengagumkan. Dia habiskan seluruh waktunya menjelajahi seluruh area rangsangan yang ada di sekujur tubuh Rita. Bibir Robert begitu lembut dan dia begitu ahli dalam berciuman. Robert membuatnya jadi liar saat lidahnya mencumbu telinga dan celah pantatnya. Tubuhnya telah terbakar hebat kala akhirnya Robert bermuara di vaginanya. Rita selalu menjaga bibir vagina hingga lubang anusnya bersih tak berambut, hanya menyisakan rambut tipis yang tercukur rapi di atas vaginanya. Robert menjilati kulit lembut tanpa rambut yang super sensitif di antara lubang anus dan vagina Rita, yang membuat jiwa Rita seakan keluar dari raganya.
Saat akhirnya lidah Robert menyentuh bibir vaginanya, Rita merasa dia akan pingsan saja. Robert menjilatinya naik dan turun, berulang-ulang, setiap kali lidahnya hanya sedikit menggoda kelentit Rita. Robert menggodanya begitu yang terasa tanpa ujung. Hingga Rita melepaskan jerit erangan birahi penuh kepuasan saat akhirnya Robert bergerak naik menindih tubuhnya.
Batang penisnya yang begitu gemuk, walaupun Rita telah begitu basahnya melebihi yang pernah dia alami, tetap saja membutuhkan beberapa menit nan panjang bagi Robert untuk bisa membenamkan batang penisnya seutuhnya. Tapi selanjutnya, Robert berubah layaknya binatang liar. Dia sodokkan batang besarnya, membuat tubuh mungil Rita seakan tenggelam ke dalam ranjang. Orgasme pertama Rita datang dengan cepatnya dan itu terasa tanpa jeda. Dalam beberapa menit lamanya, ombak kenikmatan orgasme menyapu sekujur tubuhnya.
Robert mempunyai stamina yang menakjubkan. Namun pada akhirnya, Rita dapat merasakan Robert sudah berada di ambang batasnya juga. Tubuh kekarnya berubah mengejang dan batang penisnya terasa semakin bertambah besar dan keras saja. Dengan sisa kendali dirinya yang tersisa, Rita berkata, “Robert… ini bukan waktu yang aman buatku… keluarkan di luar, okay?”
Robert sudah terlalu jauh tersesat dalam kungkungan birahi untuk meresponnya. Dia terus mengocok dengan keras dan cepat, semakin bertambah dekat di ambang batas pelepasannya dan menyemburkan sperma sehatnya di rahim subur Rita.
Rita tak bisa membiarkannya. Sekarang adalah periode paling suburnya. “Keluarkan di mulutku, Robert,” desaknya. “Aku ingin merasakanmu. Aku ingin menelan semua milikmu.”
Robert tetap tak menjawab. Dia terlihat seperti kerasukan, kedua matanya terpejam begitu rapat. Rita merasakan tubuh Robert mengejang, dia sadar kalau Robert akan keluar sebentar lagi. “Keluarkan di wajahku, Robert!” desaknya panik, berusaha sebisanya agar Robert mencabutnya. “I want you to fuck my face, keluarkan di wajahku, aku ingin, please, cabut dan keluarkan di wajah dan rambutku, please!”
Tapi itu tak berhasil. Dengan geraman keras, tubuh kekar Robert mengejang dan dia mulai ejakulasi. “TIDAK Robert JANGAN!” Rita berteriak saat dia rasakan semburan pertama dari sperma Robert menembaknya. “JANGAN Robert CABUT! CABUT!” dia teriak dengan panik.
Teriakan Rita memecahkan kerasukan birahi Robert. Dia terlihat kaget dan tersadar, dia cabut keluar, tapi semua sudah terlambat.
“Oh tidak, oh tidak,” ratap Rita, menyadari Robert telah terlanjur menumpahkan sperma yang subur dalam rahimnya sebelum dia mencabutnya. Seakan menguatkan hal itu, sperma Jacque meleleh keluar dari pangkal pahanya saat Rita bergegas menuju kamar mandi. Dengan cepat dia langsung mandi dan berusaha sebisanya untuk membersihkan sperma Robert dari dalam vaginanya. Tapi tetap saja dia tak bisa membersihkan semuanya, Robert menyemburkan spermanya begitu banyaknya.
Keesokan sorenya, Rita menunggu Joni pulang dari perjalanan bisnisnya dengan cemas. Dia kenakan bustier hadiah Valentine (yang telah dia bersihkan setelah kejadian dengan Roni waktu lalu), stockings dan stiletto heels. Setelah apa yang terjadi dengan Robert malam sebelumnya, dia butuh agar tunangannya bercinta dengannya serta membuatnya keluar di dalam.
Rita langsung menyeret Joni ke kamar begitu dia pulang. “Ada acara apa nih?” tanya Joni saat dia elus bahan sutera dari bustiernya, dia remas buah dada tunangannya yang mempesona.
“Aku sangat merindukanmu,” bisik Rita di telinganya saat dia bimbing Joni memasuki tubuhnya.
“Kondomnya gimana?” tanya Joni.
“Nggak usah pedulikan itu,” Rita meyakinkannya.
“Tapi sekarang masa suburmu.”
“Nggak apa-apa, kita akan segera menikah sebentar lagi.”
Joni sudah sangat ereksi, tapi Rita khawatir dia akan langsung melemas seperti yang terjadi belakangan ini. Dia gesekkan pahanya di paha Joni, dia tahu kalau tunangannya suka sensasi dari bahan sutera dari stockingnya. Lalu dia tekan ujung stiletto heels yang dia pakai pada bagian belakang paha Joni hingga membekas, karena dia tahu betul kalau tunangannya ini suka hal itu. Saat Joni mulai hampir ejakulasi, dia kaitkan kedua lengan dan pahanya melingkari tubuh Joni, memastikan Joni akan berejakulasi di dalam tubuhnya.
Joni mencabut penisnya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah pintunya ditutup, Rita menggapai ke bawah dan meraba bibir vaginanya. Seperti yang dia takutkan, Joni tak begitu banyak keluarkan sperma, seperti biasanya.
Dua minggu kemudian, Rita pulang dari toko obat. Dengan gugup menjinjing sebuah tas kecil dari kertas, dia menuju kamar mandi. Dengan penuh rasa takut, dia lakukan test dua kali, tapi dia sudah tahu apa hasilnya.
Dia keluar dari kamar mandi dan menjumpai Joni yang sedang duduk di kursi dapur, membaca koran. Dia membungkuk, mengalungkan lengannya ke leher Joni.
“Honey?” tanyanya ragu.
Joni memandang dari balik koran, ke wajah tunangannya yang cantik. Rita terlihat mau menangis. “Ada apa, Mil?”
Rita tunjukkan alat test kehaRitanya. “Aku hamil,” ucapnya, air mata menetes di pipinya.
Wajah Joni berubah girang dan alangsung dia peluk tubuh tunangannya. “Oh honey, ini kabar yang hebat! Jangan menangis, kita akan menikah bulan depan, nggak ada seorangpun yang akan tahu. Aku pria paling beruntung di muka bumi. Aku akan menikah dengan wanita terhebat, tercantik di muka bumi dan kita akan punya bayi.”
Rita paksakan sebuah senyuman dan balas memeluk Joni. Dia sangat mencintai Joni. “Kumohon Tuhan,” dia berdo’a dalam hati. “Jadikan ini bayinya.” Tapi dia teringat betapa banyak Robert tumpahkan sperma dalam rahimnya, jauh lebih banyak dibandingkan milik Joni. Dia teringat betapa dalamRobert memasuki tubuhnya, jauh lebih dalam dibanding batang penis Joni yang kecil mampu menjangkau. Dan Joni bercinta dengannya sehari setelahnya.
“Ada apa nih?” tanya Roni, sambil duduk. “Sudah lama sekali kamu nggak mengajakku makan siang. Akhirnya kamu memaafkanku soal yang di kereta? Kamu tahu kan, aku hanya…”
“Aku hamil,” potong Rita.
Ucapan Rita sangat mengejutkan Roni. “Wow,” ucapnya, ekspresi wajahnya menggambarkan apa yang dia rasa. Lalu dia paksakan untuk tersenyum. “Well, itu bagus. Lebih cepat dari harapanku, tapi what the hell. Congrats, untuk kalian berdua, kamu dan Joni.”
Rita menunduk. Roni melihat kegelisahan di wajah Rita dan dia segera faham. “Tunggu sebentar,” ucapnya pelan. “Ayahnya bukan Joni?”
Rita mengangkat kepala, menatap Roni dan kemudian mengangguk.
Mata Roni terbelalak lebar. Lalu terbersit sesuatu di kepalanya yang membuatnya gembira. “Bayiku?”
Rita terlihat kaget, tapi kemudian dia sadar itu pertanyaan yang wajar. Hal itu membuatnya semakin merasa begitu murahan. Kembali dia gelengkan kepala. “Bukan,” dia menjawab dengan suara begitu lirih, seakan tak ingin orang-orang di sekitar mereka mendengarnya. “Aku ketemu dengan seseorang di bar. Ini hanya one night stand saja.”
Roni berusaha sembunyikan kekecewaannya. Dia akan senang sekali menaklukkan Rita. Dia mengangkat bahunya, coba sembunyikan rasa kecewa dan sakitnya. “Lalu, kenapa kamu ceritakan padaku? Kenapa nggak kamu ceritakan saja pada si tuan One-Night-Stand?”
Sekarang giliran Rita yang terkejut. “Kenapa kamu nggak berhenti bersikap menjengkelkan dan jadi temanku? Aku sedang dalam masalah. Aku butuh bantuan.”
Roni diam, coba mengontrol amarahnya. Rita tak pernah membalas telponnya sejak pesta pertunangannya. Sekarang dia sudah dihamili oleh pria yang benar-benar tak dikenal. Kalau Rita ingin sex, kenapa tak menghubunginya saja? Dia sungguh marah pada Rita dan dia ingin Rita tahu itu. Tapi ini bukan waktunya, tidak jika dia masih ingin mendapatkan kenikmatan dari tubuh Rita lagi.
“Oke, oke,” jawabnya dengan suara yang lebih lembut, memaksa dirinya untuk terdengar wajar. “Aku minta maaf. Apa Joni tahu?”
“Ya. Dia pikir ini bayinya.”
“Kamu yakin bukan dia ayahnya?”
Rita kembali menunduk. “Ya, sangat yakin,” jawabnya. Dia tatap Roni. “Apa yang harus kulakukan? Kamu tahu pandanganku tentang aborsi.”
Roni mengamati Rita. Matanya merah, rambutnya kusut. Dia tak memakai makeup sama sekali dan hanya mengenakan celana jeans biasa, kaos putih dan sepatu kets. Diluar itu semua, Rita tetap terlihat menggairahkan. Meskipun jeans yang paling sederhana sekalipun tak akan bisa menyembunyikan pantatnya yang indah, sepasang paha jenjangnya serta bahan kaos putihnya lumayan tipis untuk memperlihatkan bra berenda yang dia pakai. Melihat itu, Roni teringat betapa sempurnanya bentuk buah dada Rita. Meskipun sekarang dia tahu Rita hamil, itu sama sekali tak mengganggunya. Bahkan itu semakin membuat birahinya tergelitik. Roni merasa penisnya mengeras. Bayangan bersetubuh dengan Rita yang hamil, perutnya yang besar dengan jabang bayi di dalamnya, buah dadanya yang membesar, sangat menggugah birahinya.
“Menurutku kamu jalani saja dan lahirkan bayinya,” kata Roni. “Biarkan Joni menganggap itu bayinya.”
“Sungguh?” tanya Rita, wajahnya berangsur cerah. “Apa nggak masalah kalau nggak memberitahu dia yang sebenarnya?”
“Dia bahagia kan? Memberi tahunya hanya akan membuat kacau, karena apapun yang terjadi berikutnya, dia nggak akan senang dan juga kamu. Dengar, ini sering terjadi. Ini nggak perlu merusak kehidupanmu. Joni pikir ini bayinya. Biarkan dia terus menganggap begitu. Dengan begitu, nggak ada seorangpun yang tersakiti.”
Rita merasa lega. Dia merasa seakan beban yang maha berat telah terangkat dari bahunya. “Ok, baiklah, kurasa aku akan melakukannya. Kamu benar, mengatakannya pada Joni hanya akan menyakitnya.”
Rita meremas tangan Roni. “Thanks, Roni. Kamu benar-benar sahabatku hari ini. Aku nggak akan melupakannya.”
Roni tersenyum dan dia dapatkan sebuah kecupan di pipi dari sahabatnya yang cantik. Dia ucapkan selamat pada dirinya sendiri dalam hati. Dia telah mainkan hal ini dengan sempurna. Tak akan butuh waktu lama lagi dia akan bisa membenamkan batang penisnya ke dalam vagina nikmat milik Rita lagi.
Pada waktu yang sama, saat Roni memikirkan cara untuk mengajak Rita naik ke ranjangnya kembali, Joni sedang berada di kantornya, menyaksikan sebuah video di komputernya. Dia punya dua video Rita sekarang. Yang pertama diambil oleh detektif bayarannya beberapa bulan lalu, video yang berisi adegan Rita dengan Roni.
Yang kedua, kualitas gambarnya kalah bagus, tapi lebih menarik. Tak diragukan karena dia sendiri yang mengambil gambarnya, hanya beberapa minggu lalu, saat dia bersembunyi di dalam almari di kamar nomer 403 Hotel XXX ketika tunangannya membiarkan seorang pria lain menikmati keindahan tubuhnya. Dia harus bergegas untuk mendahului Rita dan pria tersebut sampai di kamar hotel itu terlebih dahulu. Kualitas video dari handphonenya kurang begitu bagus, tapi dari dalam almari tersebut memberinya sudut pandang yang sempurna ke arah ranjang. Meskipun hanya dari sebuah celah kecil di balik pintu, dia bisa merekam dan mendengar semuanya.
Dia tak bisa menerima Rita bersama pria lain. Dia hampir gila oleh rasa cemburu. Rita bilang cinta padanya, bersedia menikah dengannya. Bagaimana bisa dia menghianatinya? Bagaimana dia bisa membiarkan seorang pria yang tak dikenalnya, merayunya dan bahkan menikmati tubuhnya tepat di hari ulang tahunnya?
Tapi salah satu bagian dirinya begitu mabuk kepayang menyaksikan Rita menyetubuhi pria lain. Dia tak tahu kenapa, dia tak bisa menjelaskan gairah aneh tersebut. Bahkan dia sering saat bekerja, mengunci pintu kantornya dan beronani sambil melihat berulang kali kedua video tersebut di komputernya.
Dia sudah tahu bayi yang dikandung Rita bukanlah miliknya. Dia merasa dihianati. Bahkan yang lebih parah, Rita berusaha menghilangkan jejak dengan mengajaknya bercinta pada malam berikutnya dan membuatnya ejakulasi di dalam. Tak pernah Rita mengijinkannya keluar di dalam, dia selalu memaksanya memakai kondom atau kalau tidak, berejakulasi di luar. Tapi, dia biarkan seorang pria tak dikenal merayu, menyetubuhi dan menyemburkan spermanya di dalam, di periode masa suburnya. Joni merasa sangat dihianati oleh Rita.
Tapi memikirkan Rita dengan pria tersebut malah membuat batang penis Joni mengeras lagi. Di saat itu, saat dia birahi, perasaan dihianati serta cemburu semakin menyulut nafsu birahinya, bagaikan bensin yang disiramkan pada kobaran api. Setelah memastikan pintu kantornya terkunci, dia mulai nyalakan video tersebut di komputernya dan dia keluarkan batang penisnya dari dalam celana.
Satu bulan kemudian…
Rita menutup pintu lalu berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya. Dia menginap di rumah orang tuanya malam ini dan mereka baru saja pulang dari persiapan acara makan malam. Joni menginap di hotel. Dia tak boleh menemui calon pengantinnya lagi hingga besoknya, saat hari pernikahan mereka.
Rita memandang dirinya di cermin. KehaRitannya belum nampak, thank goodness. Dia ingin terlihat cantik untuk Joni besok dalam gaun pengantinnya.
Dia merasa begitu horny. Hormon tubuhnya jadi menggila. Dia belum merasakan morning sickness. Tapi hormonnya membuat dia lebih horny dari biasanya. Dia pernah membaca kalau itu sering terjadi. Kehidupan seksnya dengan Joni tidak berangsur membaik, tapi rasa cintanya pada Joni jauh lebih besar dari yang pernah dia rasakan terhadap semua pria sebelumnya. Namun dia jadi serasa gila oleh tuntutan seksual yang dirasakannya, tapi dia selalu yakinkan dirinya sendiri bahwa itu semua akan mereda setelah hormon tubuhnya kembali normal.
Memandang dirinya di cermin, seakan memandang seseorang di dalam TV, dia lepas kancing blousnya dan membiarkannya jatuh, lalu tangannya bergerak ke dadanya. Jemarinya menyusuri bra yang dia pakai, mengikuti pola rendanya. Lalu dia gerakkan jarinya melingkar di atas putingnya. Putingnya bereaksi dan mulai mengeras di dalam branya.
Dia singkapkan roknya dan tangannya yang satu lagi menyusup ke balik celana dalamnya. Satu tangan mengelusi dadanya, satunya lagi menjelajah di balik celana dalamnya. Dia terus pandangi dirinya di dalam cermin, berhayal tangan Jonilah yang sedang menyentuhnya. Tapi itu tak berhasil. Meskipun merasa sedikit bersalah, dia berhayal seorang pria tak dikenal tengah menyentuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar dan memiliki batang penis yang besar. Lalu hayalannya berganti, pria itu adalah Roni. Bukankah tidak dosa jika hanya berhayal, kan? Itu tidak selingkuh. Dia pejamkan mata kala berhayal sedang disetubuhi Roni, batang penisnya yang panjang menusuknya demikian dalam, tangannya yang kekar menggerayangi sekujur tubuhnya.
Suara jendela kamar yang berderik, mengagetkannya. Dia buka matanya dan menoleh ke arah jendela.
Itu adalah Roni.
Rita langsung melompat dan memakai jubah mandinya. Dia buka jendela kamarnya.
“Kamu terlihat cantik.” puji Roni, dia tarik sedikit jubah mandi Rita ke samping dan mengintip bra yang dipakai Rita.
Rita rapatkan kembali jubah mandinya dan dan melotot galak pada Roni. “Mau apa kemari?”
Roni angkat ujung jubah mandi Rita, lumayang tinggi hingga memperlihatkan pangkal stockingnya.
Roni melirik paha jenjang dan kencang milik Rita. “Aku kangen kamu. Kamu begitu menggoda. Aku harus setubuhi kamu untuk yang terakhir, sebelum kamu menikah.”
Rita terperanjat dengan keterus-terangan Roni. Rita kira Roni mengerti kalau hubungan khusus mereka sudah berakhir. Dia turunkan ujung jubah mandinya.
“Kamu sedang membayangkanku, kan?” tanya Roni, dia buka kembali jubah mandi Rita.
Rita tersipu malu. Roni tersenyum penuh kemenangan, menyaksikan jawabannya di wajah Rita. Dia ulurkan tangannya dan menangkup buah dada Rita.
Rita rasakan remasan jari Roni pada putingnya. Dia paksakan diri untuk bergerak mundur, menjauh dari jangkauan Roni dan kembali dia rapatkan jubah mandinya. “Kamu harus pergi. Keluargaku ada di bawah dan aku akan menikah besok.”
“Oh, jadi kalau kita sendirian, kamu mau?”
“Bukan itu maksudku.”
“Kurasa iya.” Roni membungkuk dan menciumya. Rita mendorongnya mundur, tapi Roni memaksa. “Kamu sama menginginkannya sepertiku,” ucapnya saat dia cium Rita lagi. “Aku bisa rasakan, kamu sudah horny nggak karuan.” Roni tarik jubah mandi Rita melewati bahunya dan menjatuhkannya ke atas lantai.
“Satu kali lagi, Rita. Satu kali lagi demi masa lalu. Bayangkan bagaimana nikmat rasanya.”
Rita rasakan lidah Roni menjelajah dalam mulutnya. Benak Rita silih berganti antara panik dan terangsang lalu panik lagi. Orang tuanya ada di lantai bawah sekarang ini.
Roni membelai buah dada Rita. Dia rasakan puting Rita mengeras dan diapun tersenyum, mengetahui dia sudah berhasil mendapatkan Rita. Menyetubuhi Rita di malam sebelum dia menikah akan jadi penaklukannya yang terbesar. Mungkin saja dia akan menyuruh Rita memakai baju pengantinnya, menyetubuhinya dengan memakai itu. Roni bayangkan Rita berjalan menuju altar, dengan bercak-bercak bekas spermanya yang mengering pada gaun pengantinnya.
Roni julurkan tangannya ke pangkal paha Rita dan tusukkan jarinya ke dalam vagina Rita. Brengsek, si binal ini sudah basah kuyup! Roni merasa gembira mendengar Rita melenguh saat dia mengocoknya dengan jarinya. Sialan, ini akan jadi lebih gampang dari yang dia kira.
“Rasakan ini,” kata Roni, menekankan ereksinya ke perut Rita. Kemudian dia genggam tangan Rita dan membuatnya memegang batang penisnya. “Kamu kangen batang besarku?”
Rita rasakan sekujur tubuhnya disengat rangsangan saat dia sentuh batang penis Roni. Terasa begitu keras dan besar. Rita merasa lututnya lemas, vaginanya terbakar birahi, tubuhnya mendambakan kepuasan seksual. Tapi dia tak bisa menghianati Joni lagi, dia tak bisa, tidak di malam sebelum dia menikah!
“Nggak, Roni, jangan,” protesnya dengan sisa kekuatan terakhirnya, dia dorong Roni menjauh.
Roni tersenyum dan menarik tubuh Rita kembali. “Kamu ingin kasar, hah? Ok, aku bisa melakukannya.” Dia sentakkan turun resleiting rok Rita dan dengan kasar membetotnya turun hingga lantai, kemudian dia renggut paksa hingga robek celana dalam Rita, menyisakan si calon pengantin yang cantik hanya memakai thigh highs dan sepatu. Dia hempaskan Rita ke atas ranjang, hingga ranjang tersebut berderit keras menghantam dinding. Dia lepaskan baju dan celananya, mengeluarkan batang penisnya.
Rita tak bisa mencegah memandangi tubuh Roni dengan hasrat tertahan. Hampir dia lupakan betapa mengagumkan Roni terlihat, begitu kekar dan gagah. Serta urat yang menghiasi bagian sisi batang penisnya yang panjang dan gemuk membuat Rita gemetar menanti. Dia tak pernah bisa menolak Roni dan sekarang ini, hormon tubuhnya begitu menggila, tubuhnya mendambakan Roni melebihi yang pernah dia rasakan selama ini.
“Rita, sayang,” terdengar suara dari luar kamar. “Kamu nggak apa-apa? Kurasa aku dengar suara keras tadi.”
Rita dan Roni sama-sama menatap pintu kamar. “Oh my god, itu mamaku!” bisik Rita cepat, wajahnya memancarkan campuran rasa lega dan kecewa. Suara mamanya telah mengembalikan kesadarannya. “Pergilah sekarang, atau aku janji akan teriak.”
Roni nyaris tertawa. “Kamu nggak akan berani,” tantangnya.
“Aku berani sumpah, Roni. Kalau kamu nggak pergi sekarang, aku akan teriak diperkosa!”
Roni sadar Rita serius. “Brengsek Rita, kamu tega melakukan ini padaku, setelah semua kenangan kita bersama selama ini?” lalu dia menunjuk pada penisnya yang begitu keras. “Apa yang harus kulakukan dengan ini?”
“Rita, sayang, kamu nggak apa-apa?” mereka dengar mama Rita memanggil. Suaranya terdengar mendekat, mamanya tentu sedang menaiki tangga, dan sebentar lagi akan mengetuk pintu kamar tersebut. Rita sadar kalau dia butuh kerja sama dari Roni. Dia tak punya waktu untuk berdebat dengan Roni lagi, dia butuh kerjasamanya sekarang juga, atau mereka akan tertangkap basah.
“Ok, ok, ok,” bisik Rita cepat. “Sembunyi di dalam almari pakaian, dan… dan…”
Dia berhenti, berpikir dengan cepat, memikirkan pilihannya.
“Sembunyilah dalam almari dan akan kuberi kamu blowjob, akan kuhisap kamu sampai keluar.”
Rita melihat Roni merengut padanya. “Itu pilihan terbaik yang bisa kamu dapat!” desisnya pelan. “Atau, aku akan teriak perkosaan!”
Mereka dengar suara langkah kaki tepat di depan pintu. Roni tahu dia tak punya pilihan. Dia mengangguk setuju, lalu menghilang ke dalam almari.
Pintu kamar diketuk. Dengan cepat Rita pakai jubah mandinya dan bukakan pintu. “Hai ma,” ucapnya, dia paksakan untuk tersenyum. “Nggak apa-apa, aku Cuma terpelest saja kok.”
Mamanya terlihat khawatir. Dia tepuk pelan perut Rita. “Kamu harus hati-hati, sayang, kamu punya yang berharga sedang tumbuh di dalam sini.”
“Aku tahu ma,” jawab Rita, berusaha terdengar riang. “Aku hanya sedikit gelisah menunggu besok. Selamat tidur.”
Sesaat kemudian, Roni menghambur keluar dari dalam almari sambil menyeringai.
“Aku senang kamu menikmatinya,” kata Rita sinis.
“Well, sebenarnya aku lebih suka menyetubuhimu, tapi aku sudah temukan cara agar blowjob jadi menarik.”
Rita melotot padanya. “Kamu nggak pernah komplain soal blowjob sebelumnya.” Rita mengisyaratkan Roni untuk duduk di ranjang. “Ayo, kita selesaikan ini.”
“Nggak usah buru-buru,” kata Roni, dia duduk di tepi ranjang. “Partama, buka pakaianmu.”
Rita ragu, kemudian dia angkat bahunya. Apa bedanya? Roni sudah sering melihat tubuhnya. Dia lepaskan tali jubah mandinya dan menjatuhkannya ke lantai, lalu dia berlutut di antara paha Roni.
“Kubilang, nggak usah buru-buru. Temanmu memberimu sebuah bustier baru, kan? Sarah cerita padaku. Kamu akan memakainya besok, di dalam gaun pengantinmu? Pakai sekarang.”
Rita melotot pada Roni. Dia tahu apa yang Roni mau. Roni ingin jadi pria pertama yang akan menyentuhnya dalam balutan bustier tersebut. Jadi pria pertama yang akan berhubungan seks dengannya saat memakai itu. Untuk mengalahkan Joni tentunya.
“Cepatlah,” desak Roni dengan seringai jahatnya. “Ini akan jadi lebih cepat kalau kamu turuti apa yang kukatakan.”
Rita sadar kalau Roni benar. Lagipula, dia tak punya waktu untuk berdebat dengannya. Mama atau saudaranya bisa saja datang setiap saat. Dia harus mengeluarkan Roni dari kamarnya dan dia harus melakukannya dengan segera.
Sambil mengangkat bahunya, Rita bangkit dan mengambil bustier tersebut dari tumpukan lingerie pengantinnya. Warnanya putih tulang dan terbuat dari sutera mahal, berhiaskan corak renda yang rumit, sebuah bustier pengantin bergaya klasik. Dia kenakan di tubuhnya, lalu mulai memasangkan garter straps ke thigh highs yang sudah dia pakai.
“Bukan yang itu,” kata Roni, menggelengkan kepala. “Pakai yang akan kamu pakai besok.”
Rita melotot pada Roni, tapi mereka berdua tahu Rita tak punya waktu untuk berdebat. Dia lepas thigh highs hitam yang dia pakai tadi, kemudian dia ganti dengan yang berwarna putih. Stocking untuk gaun pengantinnya memiliki bagian pangkal berenda yang lebar dan dia kaitkan dengan straps bustiernya.
“Dan sekarang sepatunya. Pakai yang untuk besok juga.”
Rita sudah tak ingin memelototi Roni lagi kali ini. Dia ambil sepatu untuk pernikahannya besok, bertekstur sutera warna putih tulang dan memiliki tumit setinggi 3 inchi, dia memakainya.
“Bagus, sangat cocok,” puji Roni. “Joni benar-benar pria beruntung. Sayangnya dia nggak bisa memuaskanmu seperti aku.” ejeknya. “Satu lagi. pakai kerudungnya.”
Rita ragu, dia rasa Roni sudah keterlaluan. Tapi dia juga sudah terlalu lama berada dalam kamarnya. Akhirnya dengan enggan dia kenakan kerudung pengantinnya.
Setelah Rita memakainya, Roni kembali mengangguk kagum memandanginya. Rita terlihat memukau, lugu dan sekaligus binal juga, selayaknya mimpi basah dari semua top model bugil majalah pria dewasa. “Ayo,” perintahnya, dia buka pahanya lebar. “Kamu tahu apa yang harus kamu kerjakan.”
Rita berlutut dan dia genggam batang penis Roni. Selalu saja membuatnya kagum, meskipun kedua telapak tangannya menggenggam bertumpukan, masih tetap ada bagian yang tersisa.
Seingat Rita, belum pernah dia rasakan batang penis Roni sekeras sekarang ini dan kelihatannya batang tersebut berdenyut mengundangnya. Dia tepiskan kerudungnya ke samping dan mulai memasukkan ujung penis Roni ke dalam mulutnya, kedua tangannya masih tetap menggenggam di bawah. Kerudungnya jatuh menutupi wajahnya dan dia kembali tepis ke samping lagi, kali ini ke belakang telinga, berharap tidak jatuh ke depan lagi. Dia tak mau jadi ternoda oleh cairan pre-cum Roni.
Susah payah Rita masukkan batang penis Roni ke dalam mulutnya. Dia hampir lupa bagaimana cara memblowjob batang penis dengan ukuran yang besar. Bagaimana sulitnya. Dan juga, betapa menyenangkannya.
Dia tergoda untuk memainkan jarinya di vaginanya sendiri. Itu yang selalu dia lakukan dengan Roni waktu dulu. Rita akan memainkan vaginanya dengan jarinya sendiri, saat Roni setubuhi mulut dan wajahnya. Tapi rasa marah dan bencinya mencegah Rita melakukan hal itu. Dia tak mau memberi Roni rasa puas, tak ingin Roni merasa kalau dia menkmati semua ini barang sedikitpun.
Roni tak sanggup bertahan lama. Dengan cepat dia mulai menggelinjang tak karuan. Dengan susah payah Rita berusaha untuk tak melepaskan batang penis Roni dari mulutnya. Kemudian tubuh Roni mengejang, pahanya mengencang, pantatnya terangkat naik dari atas ranjang dan dia berejakulasi, mengerang puas saat orgasme menyengat tubuhnya.
Rita tetap berusaha agar bibirnya terus mengunci kepala penis Roni. Dia berusaha untuk menelan semua sperma yang disemburkan Roni, dia tak mau sampai menodai busana pengantinnya. Tapi Roni tak akan membiarkannya. Dia lepaskan paksa mulut Rita dari penisnya, lalu dengan kejamnya dia sembur wajah, rambut, kerudung dan bustier Rita dengan spermanya yang kental.
“Argh, bajingan kamu!” teriak Rita sembari berlari ke kamar mandi dalam kamar tidurnya. Dia ambil handuk dan berusaha semampunya untuk menghapus sperma Roni dari kerudung dan bustiernya.
Roni menyeringai jahat. Seharusnya kamu biarkan aku setubuhi kamu, batinnya. Mungkin aku akan keluarkan di dalam saja.
Roni kenakan pakaiannya dan menuju ke jendela, siap untuk pergi. Dia menatap Rita, air matanya meleleh membasahi pipinya, masih berusaha membersihkan spermanya dari kerdudung dan bustiernya dengan susah payah. Roni nyaris tertawa. Dia lirik paha Rita. Stockingnya jadi meninggalkan bekas sedikit cacat, terlihat pada lututnya karena berlutut saat dia memblowjobnya. Roni julurkan tangan memegang tumpukan lingerie pengantin Rita. Dia lihat cadangan stocking pengantin Rita, masih terlipat rapi dalam bungkusnya. Roni mengambilnya dan langsung dia masukkan ke dalam sakunya. Dia tersenyum, karena dia tahu Rita tak akan punya pilihan lagi selain harus memakai stocking yang dia pakai sekarang untuk pernikahannya besok.
Beberapa hari kemudian…
Joni berusaha secepatnya untuk selesaikan emailnya. Dia menyesal harus bekerja di bulan madunya, tapi kantornya tengah berusaha untuk menggoalkan sebuah proyek besar, dan dia harus selalu tahu perkembangannya setiap saat.
Dia pandang keluar jendela. Rita, pengantin barunya, sedang menunggunya di pantai. Dia terlihat memukau dengan bikini string barunya. Usia kandungannya baru sebulan lebih dan belum terlihat di tubuhnya.
Dia saksikan Rita sedang bicara dengan seorang pria yang memakai celana renang speedo. Dia tak bisa percaya ada pria yang mau pakai celana renang model begitu. Ukurannya bahkan lebih minim dibanding bikini wanita.
Pria itu membantu Rita mengambil snorkel dan kaca mata selam. Joni baru sadari kalau pria itu tentunya guide wisata snorkeling mereka. Joni saksikan pria itu tertawa dan mengobrol dengan Rita saat dia membantunya membetulkan kaca mata selamnya. Terlihat jelas kalau pria itu tengah menggoda isteri barunya. Joni meraih teropongnya, yang sebenarnya disediakan resort ini untuk melihat burung-burung.
Pria itu seumuran mereka dan berpostur tinggi serta berkulit gelap, yang pastinya karena sering berada di bawah sengatan matahari saat jadi guide untuk para pelancong. Wajahnya khas pria lokal, karena memang sekarang mereka sedang berbulan madu di pulau indah ini. Tubuhnya tegap berotot, berdada bidang, perut six pack dan lengan serta pahanya tampak begitu kuat. Wajahnya sangat berkesan jalanan dengan senyuman yang berhiaskan deretan gigi putih.
Tapi apa yang menarik perhatian mata Joni adalah selangkangan si pria dan tonjolan besar di depan celana renangnya. Terlihat sangat besar dan kelihatannya pria itu suka memperlihatkan yang dipunyainya. Saat Rita duduk di bangku dan mencoba flippernya, pria itu berdiri di hadapannya, selangkangannya begitu dekat dengan wajah Rita. Joni tambahkan zoom teropongnya. Celana renang pria itu sangatlah ketat hingga begitu jelas memperlihatkan bentuk kejantanan di selangkangannya. Joni fokus pada wajah Rita. Wajahnya terlihat sedikit merona. Lalu dia fokus pada bikini atas Rita. Putingnya terlihat menonjol jelas di balik kain bikini atasnya.
Joni buka resleiting celananya dan keluarkan penisnya. Dia genggam batang penisnya. Dengan mudah dia genggam seluruh batangya, dari pangkal hingga kepala. Bahkan Rita bisa melakukan hal yang sama, meskipun genggaman tangannya lebih kecil lagi.
Apa yang disaksikannya di pantai membuatnya terangsang. Bukan hal yang mengejutkan kalau Rita didekati pria. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya terlalu sayang untuk dilewatkan pria manapun. Yang membuatnya terkejut, ternyata itu juga membuatnya begitu terangsang, perasaan cemburu menyaksikan Rita memberi respon pada pria yang coba mendekatinya, ternyata membuatnya sesak nafas dan kepalanya serasa berputar oleh deraan birahi.
Saat dia bermasturbasi, dia teringat pesta resepsi pernikahan mereka. Ditengah berlangsungnya pesta, dia terkejut saat mendapati bekas sedikit cacat pada stocking Rita. Cacat itu pada lututnya, model cacat yang hanya bisa didapat saat berlutut lama, berlutut lama jika memberikan sebuah blowjob. Sesudahnya, saat dia menanyakan, Rita bilang pasti itu didapat saat dia berdandan. Tapi Joni menyangsikannya. Dia juga menemukan sebuah bercak pada bustier Rita. Dia tak begitu yakin, tapi noda tersebut tercium seperti noda sperma. Apa Rita memberikan blowjob pada Roni, di hari pernikahan mereka, mungkin saat Rita sedang berdandan? Mungkin sebagian spermanya tersembur mengenai bustiernya? Joni mengerang dan berejakulasi dalam genggamannya saat dia bayangkan Rita mengenakan busana pengantinnya, berlutut di hadapan Roni, dengan batang penis Roni yang besar di dalam mulutnya.
Dengan cepat Joni bersihkan dirinya dengan tisu. Lalu dia pakai pakaian renangnya dan bergegas menuju pantai.
Pria itu memperkenalkan diri, namanya David. “Anda bisa dapatkan kaca mata, snorkel dan flipper dari locker di sana,” ucapnya pada Joni dengan nada yang terdengar acuh. Saat Joni berjalan menuju locker, David melanjutkan kesibukannya pada perlengkapan Rita, tertawa dan menggodanya seperti yang dia lakukan sebelum kedatangan Joni.
“David, locker ini dikunci,” kata Joni saat mencoba buka pintunya.
“Nggak, pintunya memang sedikit berat,” jawab David, sambil mendekat. Dengan begitu gampang dia buka pintu tersebut dengan satu tangan, otot lengannya terlihat mengeras. Dengan seringai di wajahnya, dia pukul dada Joni dengan bercanda. “Anda butuh olah raga, bung.” Dia remas otot bisep Joni yang lembut saat dia mengedip pada Rita. “Ganti lemak ini dengan otot. Lagian, anda punya isteri seksi yang harus dibahagiakan.”
David tertawakan guyonannya, tapi Joni terbakar dalam hatinya. Dadanya yang dipukul David tadi terasa sakit, tapi dia tak mau mengusapnya. “Dasar brengsek,” gerutu Joni saat dia duduk di samping Rita untuk mencoba flippernya.
“Ah, dia kan cuma bercanda,” kata Rita sambil meremas lengan Joni. Dia meremasnya, seperti yang dilakukan David tadi. “Kurasa tubuhmu ini sudah sempurna.”
Mereka masuk ke air untuk memasang peralatannya. Saat Joni sedang sibuk berusaha memasang flipper dengan gelombang ombak yang menghantamnya, dia dapati dirinya terpisah dengan Rita dan David sekarang. Joni menoleh ke arah mereka. David yang membantu Rita memasang perlatannya, membuat posisi David merapat pada Rita. Mereka nyaris bersentuhan saat David membetulkan tali kaca mata selam Rita. Meskipun dia tak bisa melihat, sebab dari pinggang ke bawah mereka berada dalam air, Joni menerka mungkin David menekankan tonjolan selangkangannya pada isterinya. Joni merasa batang penisnya berdesir membayangkan hal itu.
Saat mereka menyelam di terumbu karang, David hanya memberikan seluruh perhatiannya pada Rita, saat menunjukkan indahnya kehidupan bawah laut. David dan Rita adalah perenang dan penyelam yang berfisik lebih kuat dibandingkan Joni. Awalnya, mereka bertiga masih beriringan, seringnya Rita menunggu agar Joni dapat menyusul. Namun seiring berjalannya tur tersebut dan pemandangannya bertambah menarik, mereka mulai terpisah. Rita dan David terus pergi untuk mendapatkan pemandangan bawah laut yang lebih bagus dan Joni berjuang untuk dapat menyusul mereka.
Di perairan yang jernih, Joni bisa melihat keduanya. Terkadang, David akan memegang pinggang Rita untuk memberinya tanda, terkadang hingga dekat pantat Rita. Terkadang saat mereka berhenti untuk melihat sesuatu, paha mereka akan saling bersentuhan. Terkadang tiba-tiba saja David berputar dan membuat tubuhnya menempel rapat pada tubuh Rita, dada kekarnya menekan buah dada Rita, batang keras di selangkangannya menggesek paha Rita.
Satu jam kemudian mereka kembali ke permukaan. Setelah menaruh semua peralatan ke dalam locker, mereka duduk santai di kursi pantai. Wajah Rita terlihat merona merah.
Mata Joni melirik buah dada isterinya. Putingya terlihat keras dan membekas jelas pada bikini atasnya. Apa David telah membuatnya terangsang?
“So, apa rencana kalian berikutnya?” tanya David.
“Oh, belum tahu,” jawab Joni. “Kami belum punya rencana. Mungkin hanya santai-santai saja di pinggir kolam, lalu cari makan malam.”
“Restoran terbaik di sini adalah Baja Salsa,” ucap David meyakinkan. “Nggak terlalu dipublikasikan, jadi nggak banyak turis yang tahu dan makanannya lezat. Di sana selalu ada live band dan dansa.”
“Kedengarannya menarik. Gimana menurutmu, honey?”
Rita mengangkat bahu, tak melihat ke arah Joni maupun David. Dia terlihat bingung. “Nggak tahu. Aku sedang memikirkan sesuatu yang lebih tenang, mungkin cuma room service saja.” Lalu dia berdiri. “Ayo, honey, kita balik ke hotel.”
“Baiklah,” jawab Joni, agak terkejut dengan kekasaran isterinya. Baru saja dia akan berdiri saat dia melirik ke bikini bawah Rita, yang ada di depan matanya. Hampir saja Joni menjerit, karena pada kain tipis tersebut tercetak sebuah camel toe. Tak diragukan lagi, isterinya telah terangsang oleh David.
Begitu Rita melangkah menuju ke hotel, Joni melirik ke arah David, yang tersenyum padanya dengan pongah. Jelas sudah kalau David juga melihat camel toe Rita. David berpaling untuk menatap Rita yang berjalan menjuh, matanya menatap tajam dari pantat ke paha jenjang Rita, sama sekali tak peduli untuk menyembunyikan dari Joni, akan rasa tertariknya terhadap pengantin barunya.
Jantung Joni berdebar kencang. Saat dia berjalan menyusul Rita, dia betulkan celana renangnya agar ereksinya tak terlihat.
Beberapa jam kemudian, Joni pergi ke resepsionis saat Rita berdandan. “Aku dan isteriku berencana untuk pergi ke Baja Salsa malam ini. Gimana menurutmu tempat itu?”
Sang resepsionis, seorang pria paruh baya, menatap Joni dengan khawatir. “Tuan, anda dan isteri anda sedang bulan madu, kan?”
“Benar. David, instruktur diving kami, merekomendasikan tempat itu pada kami.”
Sang resepsionis tampak semakin khawatir. Dia lihat sekeliling untuk memastikan tak ada seorangpun yang mendengar. “Tolong jangan katakan pada siapapun kalau saya katakan ini,” bisiknya. “David teman dekat pemiliknya dan dia bisa membuatku di pecat. Tapi Baja Salsa itu tempat untuk orang yang masih single, bukan orang yang sudah menikah seperti anda. Tempatnya sangat liar… gimana bilangnya ya? Sebuah tempat ‘pasar daging’. Dan David,… dengarkan saranku, tuan, jaga isteri anda jangan dekat-dekat dengan David. Dia suka… dia suka dengan isteri orang, wanita yang sudah bersuami, anda paham maksud saya, kan?”
Joni mengangguk pelan dan memberi uang tips pada sang resepsionis. Dengan pelan dia berjalan balik ke kamarnya, jantungnya berdebar kencang. Begitu dia buka pintu kamar, dia dapati Rita sedang memberi sentuhan akhir pada rambut dan makeupnya. “Aku baru saja ngobrol dengan resepsionis,” ucapnya, puluhan kupu-kupu terbang di dalam perutnya. “Dia juga suka Baja Salsa, dia sangat merekomendasikannya.”
*****
Antrian masuk ke Baja Salsa sangatlah panjang, tapi itu karena malam ini adalah ladies’ night (Joni baru tahu kemudian ternyata di sana memang selalu ladies’ night), jadi mereka diantarkan hingga ke bagian depan antrian. Puluhan kepala menoleh saat mereka masuk. Rita terlihat begitu menawan, mengenakan sebuah sundress sederhana. Dengan bagian atas ditopang dengan spaghetti straps yang tipis dan bagian bawah hanya sampai di pertengahan paha. Penampilannya disempurnakan dengan sepasang ankle strap high heels membungkus kakinya. Di balik gaunnya dia pakai strapless bra dan celana dalam sutera berenda.
Mereka dapat sebuah meja dan tiba-tiba saja seorang pria mendatangi mereka dan meminta Rita untuk berdansa. Beberapa saat setelah dia menolak, ada seorang pria lagi yang mengajak. “Aku nggak percaya gimana beraninya para pria di sini,” ucapnya pada Joni seusai dia tolak ajakan pria kedua tadi. “Maksudku, aku pakai cincin kawin dan kamu ada di sampingku.”
Joni juga merasa terganggu, tapi juga penasaran. Dia angkat bahu dan setelah mempelajari daftar menu selama beberapa saat, merekapun memesan makanan.
Lalu, secara berturut-turut, ada dua lagi pria yang mengajak Rita berdansa. Joni dan Rita tertawa dengan kekonyolan tersebut. Kemudian sebelum seorang pria lagi yang datang dan berkata untuk mengajak isterinya berdansa, Joni tertawa lagi. “Lebih baik kamu meng-iya-kan saja, honey. Kurasa mereka nggak akan berhenti mengajakmu sampai kamu berdansa dengan salah satu dari mereka.”
Rita juga tertawa dan mengikuti pria tersebut ke lantai dansa. Joni menyaksikan mereka berdansa dalam irama lagu yang cepat. Lalu sebuah lagu bertempo lambat mulai diputar dan pria itu membisikkan sesuatu ke telinga Rita. Rita gelengkan kepala dan kembali ke mejanya.
“Apa yang dia bisikkan?” tanya Joni.
“Dia mengajakku berdansa dengan lagu slow ini, tapi kubilang aku harus kembali ke sampingmu.”
Saat mereka menunggu pesanannya datang, Joni dan Rita turun ke lantai dansa saat lagunya berganti dengan tempo cepat lagi, disambung dengan sebuah lagu slow berikutnya. Baru saja mereka duduk kembali di meja mereka, pesanan mereka datang. Kondisi kehaRitan Rita saat ini membuatnya tak begitu berselera makan. Sebenarnya dia merasa lebih banyak bergerak lebih baik bagi dirinya dari pada hanya duduk saja. Lalu, saat ada seorang pria lagi yang mengajaknya berdansa, Joni berkata, “Turun saja honey, aku akan nikmati makanannya dulu.”
Joni saksikan mereka berdansa dalam irama lagu yang tinggi dan disambung dengan lagu berikutnya. Sedikit demi sedikit mereka hilang dalam keramaian lantai dansa. Beberapa lagu berikutnya berlalu dan Rita masih belum kembali ke meja mereka. Merasa curiga, Joni bangkit dan melangkah menuju kerumunan di lantai dansa. Akhirnya dia temukan Rita. Dia sedang berdansa dengan seorang pria, tapi bukan dengan pria yang mengajaknya tadi. Kerongkongan Joni berubah kering saat dia tahu bahwa ternyata pria yang tengah berdansa dengan Rita tersebut adalah David.
Lagunya bertempo cepat, tapi Rita dan David berdansa dengan tempo lambat. Tubuh mereka begitu dekat, nyaris bersentuhan. Keduanya terlihat begitu asik mengobrol, bicara di telinga satu sama lain agar dapat terdengar di tengah kerasnya suara musik dan keramaian. “Mungkin mereka hanya ngobrol tentang diving tadi siang,” pikir Joni.
Lalu Joni perhatikan jari David bergerak menyusuri salah satu spaghetti straps Rita. Rita menghentikannya begitu jari David mulai mendekati tonjolan buah dadanya. Rita gelengkan kepalanya menolak dan David hanya tertawa. David lingkarkan lengannya di pinggang Rita dan mulai menuntunnya ke bagian belakang club tersebut. Rita menghentikannya dan menanyakan sesuatu. Jawaban David tampak menenangkan Rita, karena dia membiarkan saja saat David menuntunnya menuju ke belakang club tersebut.
Joni membuntuti, dengan berhati-hati berusaha agar selalu berada di belakang kerumunan orang agar tak terpergok. Mereka berhenti di salah satu dinding ruangan dan kelihatannya Rita mengira mereka hanya akan berdiri di depan dinding tersebut untuk melihat keramaian orang-orang sejenak. Ternyata, David berusaha memposisikan agar Rita bersandar di tdinding dan dia berdiri di depannya, tubuh mereka nyaris bersentuhan. David rendahkan kepalanya mendekati Rita. Tampak David berbisik di telinga Rita. Selang beberapa saat, Rita mulai gelisah. Dia terlihat bicara dengan keras pada David dan Rita mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin kawin mereka. David tertawa dan dia kembali menunduk dan berbisik di telinga Rita. Rita mulai telihat risau lagi dan raut wajahnya terlihat panik, seperti seekor rusa yang kena sorot lampu mobil. Joni menerka-nerka apa yang sedang terjadi dan kemudian dia menyadari kalau dia tak bisa melihat tangan David karena terhalang oleh tubuh Rita.
Tepat di saat itu, ada pasangan yang sedang berdansa dengan tak sengaja menabrak David, hingga mendorong tubuhnya ke samping. Rita terlihat seolah tersadarkan diri dan dengan cepat dia melangkah pergi. Joni bergegas membelah keramain orang agar sampai lebih dulu ke meja mereka.
“Hai honey, dari mana saja kamu?” tanya Joni. “Aku sudah mulai cemas.”
“Maafkan aku,” jawab Rita, pipinya tampak merona merah. “Aku suka dengan musiknya, kelihatannya aku jadi lupa waktu.”
Joni perhatikan kalau isterinya tak menyinggung telah bertemu David, hatinya terasa cemburu dan juga gairah gelapnya terasa bangkit. Dia yakin melihat puting isterinya mengeras, meskipun di balik bra dan sun dressnya. Dia membayangkan apakah celana dalam isterinya sudah basah sekarang. Dia yakin kalau itu sangatlah mungkin. Bayangan tersebut membuat benaknya penuh berselubung gairah gelap.
*****
Permainan cinta mereka malam itu berlangsung begitu penuh gelora, tapi hanya berlangsung singkat. Begitu bergairahnya Joni hingga hanya dalam beberapa kali sodokan saja, dia langsung keluar.
Paginya, kegelisahan dan perasaan sakit serta cemburu kembali hadir. Tapi begitu Joni memikirkan bagaimana David merayu isterinya di lantai dansa kemarin malam dan di manakah sebenarnya tangan David berada dan apa yang sebenarnya sudah dilakukan mereka, membuat birahi Joni langsung bangkit kembali. Dia cek emailnya. Bossnya butuh laporan, tapi sebenarnya mudah saja kalau dia suruh sekretarisnya mengerjakan itu. Tapi kemudian dia memikirkan tentang David lagi dan apa yang dikatakan sang resepsionis: ” Dengarkan saranku, tuan, jaga isteri anda jangan dekat-dekat dengan David. Dia suka… dia suka dengan isteri orang, wanita yang sudah bersuami, anda paham maksud saya kan?”
Dengan hati serasa ada di tenggorokannya, Joni teriak pada pengantin barunya. “Honey, bossku menyuruhku menyiapkan laporan hari ini.”
“Oh tidak,” jawab Rita, dia kalungkan lengannya di leher Joni. “Ini kan bulan madu kita. Butuh berapa lama menyelesaikan laporanmu?”
“Hanya aku yang bisa membuat laporannya, karena ini di tanggung jawabku,” dusta Joni. “Paling tidak aku bisa menyelesaikannya sampai sore.”
Rita tampak kecewa dan Joni melihat kesempatannya. “Hey, aku punya ide,” ucapnya dengan nada gembira. “Kelihatannya kamu sangat suka diving kemarin. Kenapa nggak kamu hubungi instruktur selam… siapa namanya, David? Dia bisa memberimu tur lagi hari ini.”
“Aku nggak tahu,” jawab Rita ragu, dia palingkan pandangannya untuk menghindari mata Joni. “Aku nggak yakin apa aku suka dengannya.”
“Oh ayolah, dia hebat dan kemarin dia bilang ada bangkai kapal tenggelam di suatu tempat. Mungkin saja ada pemandangan yang cantik di sana, dia bisa memperlihatkannya padamu.”
“Tapi, aku nggak tahu…” jawab Rita bimbang, tapi Joni rasa dia menangkap sedikit kegembiraan dalam suara isterinya.
“Honey, aku bisa selesaikan laporannya lebih cepat kalau nggak ada kamu di sini. Bersiaplah sana dan hubungi toko alat selamnya dan atur turnya.”
*****
Rita keluar dari dalam kamar tidur beberapa menit kemudian. Joni perhatikan kalau isterinya menyisir rambutnya dan bahkan memakai makeup. Dia juga mencium bau parfum. Isterinya memilih bikini stringnya yang paling minim untuk dipakai sekarang. Semua bikini yang dibeli Rita untuk bulan madunya banyak memamerkan kemulusan tubuhnya, Tapi yang ini, bagian atas berbentuk segitiga yang menutup buah dadanya berukuran lebih kecil. Bikini tersebut lebih cocok untuk dipakai berjemur di pinggir kolam, bukannya untuk pergi menyelam.
Joni pura-pura tak perhatikan bagaimana Rita mendandani dirinya. Dia arahkan matanya terus fokus pada layar komputernya, pura-pura terus kerja. Rita sendiri, bergegas melewati ruangan itu, terlihat berharap suaminya tak perhatikan bagaimana dia berdandan.
Joni keluarkan teropongnya dan mengamati David membantu Rita naik ke atas kapalnya. Tampaknya, mereka harus berlayar ke kapal yang tenggelam terlebih dulu. David bertelanjang dada, tapi dia tak memakai speedo, melainkan sebuah celana pendek yang longgar.
Empat jam ke depan bagaikan sebuah siksaan bagi Joni. Dia tak bisa hentikan membayangkan apa yang mungkin dilakukan David terhadap pengantin barunya. Apa David menciumnya, sekarang ini? Apa dia sedang meremas buah dada isterinya? Apa dia sedang menyetubuhinya? Atau mungkin batang penisnya sudah terbenam dalam vagina Rita, dan sekarang berada dalam kuluman mulut Rita, untuk dibuat ereksi lagi agar bisa disodokkan dalam vagina pengantin barunya sekali lagi.
Joni mengocok dengan cepat. Dia sudah ejakulasi dan kemudian rasa menyesal serta bersalah hinggap di hatinya. Lalu saat dia memikirkan apa yang mungkin tengah dilakukan David dengan Rita (atau menonton video Rita dengan Roni atau Rita dengan Robert, atau tentang bekas cacat di stocking Rita pada hari pernikahan mereka, atau bau sperma pada bustier pengantinnya), dan gairahnyapun langsung meninggi dan dia kembali bermasturbasi lagi.
Sekitar pukul 1, Joni melihat kapal mereka kembali. David membantu Rita turun dari kapal dan mengatakan sesuatu pada Rita. Rita menggelengkan kepala menolak, lalu mulai melangkah kembali ke kamar hotel mereka.
Joni Berpikir sejenak, lalu dia membuat keputusan. Dengan cepat dia menulis dalam selembar notes dan meninggalkannya di atas meja. Dia sambar camcordernya kemudian bersembunyi di dalam almari pakaian, dengan memastikan menyisakan sedikit celah di pintu agar dia bisa mendapatkan pandangan dari ranjang sepenuhnya.
“Joni?” panggil Rita begitu dia masuk ke dalam kamar hotel mereka. Dia lihat sebuah kertas notes di atas meja dan membacanya: “Hai honey – aku harus pergi ke kota untuk cari warnet, harus browsing buat bahan laporannya. Aku akan kembali saat makan malam. Love, Joni”
Rita membiarkan notes tersebut jatuh ke atas lantai, lalu dia duduk di pinggir ranjang, pandangannya menerawang jauh, dia tak tahu harus berbuat apa. Dia merasa cemas dan tegang, dia merasa hampir gila. Tubuhnya berteriak padanya, merengek padanya, terus menerus mengingatkannya tentang kebutuhannya dan memohon padanya untuk sebuah penyaluran dan kepuasan. Dia berusaha semampunya untuk mengendalikan tubuhnya, tapi dia merasa pikiran dan hatinya telah kalah dalam pertempuran dengan tubuhnya sendiri.
Semua itu berawal dengan Roni, di malam sebelum hari pernikahannya. Dia sudah tahu siapa Roni sesungguhnya dan dia berjanji untuk tak bicara lagi dengan Roni. Tapi semua rabaan dan sentuhannya pada tubuhnya, serta blowjob yang dia berikan padanya, telah memantikkan sepercik api pada gairah tubuhnya.
Semua jadi bertambah parah kemarin, saat dia bertemu David. Langsung saja Rita tertarik padanya. Pesona ketampanan yang kasar, tinggi kekar, kulitnya gelap oleh sengatan matahari dan air laut, tangannya kuat dan kapalan karena kerja beratnya, penuh dengan kepercayaan diri hingga terasa arogan. Tipe pria yang selalu menarik hati Rita. Meskipun Rita tahu pria seperti itu buruk baginya, tapi dia tak bisa mencegah untuk tertarik pada mereka.
Kemarin saat divng, David memanfaatkan setiap kesempatan yang dia dapat untuk menyentuhnya dan menggesekkan tubuh kekarnya pada tubuhnya. Ya, David telah membuatnya terangsang, tapi hanya sebatas itu saja. Namun kemudian, David berhasil menemuinya di club dan berikutnya, berhasil menyudutkannya di dinding. Berada begitu dekat dengannya membuat lutut Rita terasa lemas, tunduk pada rangsangannya karena terperangkap di antara jepitan dinding dan tubuh kekarnya. Lalu David mulai berbisik di telinganya dan mengingat panas nafas David yang menghembus leher dan di telinganya, mampu mengirimkan getaran birahi di selangkangannya.
Kemudian David mulai mengelus pahanya, sebentar saja awalnya, menyentuh kulit pahanya sekilas saja. Percumbuan yang wajar, Rita meyakinkan dirinya, jarinya masih di bawah ujung rokku. Tapi kemudian David mulai bergerak naik, merayapi paha bagian dalamnya yang sensitif, semakin bertambah naik mendekati ujung roknya. Rita menghentikannya, mengingatkan David bahwa dia sudah menikah, bahkan dia angkat tangan kirinya untuk menunjukkan cincin pernikahannya. Tapi David cuma tertawa dan jarinya terus mendaki menaiki pahanya. Tangannya berhenti di balik roknya dan Rita merasa lumpuh tanpa daya, kepalanya menyuruhnya untuk lari, tapi tubuhnya telah terbakar dan mendambakan lebih banyak lagi sentuhan David.
David menekan ereksi di selangkangannya ke tubuh Rita, tubuhnya terus bergerak naik di dalam roknya dan di telinganya David merayunya untuk ikut bersamanya ke ruang belakang. Tubuhnya bertarung melawan akal sehatnya, merengek dan memohon untuk menuruti ajakan David. Dia tak tahu apa yang akan dia lakukan, jika saja tak ada pasangan yang tengah berdansa itu menabrak tubuh David. Gangguan tersebut kelihatannya mengembalikan kesadaran Rita dan dia kembali ke Joni secepat yang dia bisa.
Tapi kemudian Joni harus kerja hari ini dan dia memaksanya untuk pergi diving dengan David. Begitu mereka bertemu pagi tadi, David meminta maaf dengan kejadian semalam, dia menjelaskan kalau dia pasti mabuk karena terlalu banyak minum tequila. Rita merasa cemas dengan maksud tersembunyi David, tapi dia terlihat begitu wajar dan perhatian, serta dia juga tak memakai speedo yang kemarin, hanya sebuah celana renang pendek yang longgar saja.
Perjalanan kapal berlangsung wajar saja, David tak berusaha merayu ataupun coba menyentuhnya. Tapi saat Rita duduk tepat di depan David, celana renangnya yang longgar membuat Rita bisa melihat dengan jelas paha David. Rita berusaha palingkan pandangannya, tapi itu terlalu menggoda untuk diacuhkan. Rita curi lirikan saat dia rasa David tak perhatikan. Apa yang dilihatnya, membuat selangkangan Rita langsung terasa basah. David memiliki penis berukuran besar. Batangnya begitu panjang dan lembut, laksana seekor ular yang melata di pahanya. Tampak begitu lebar bagian pangkalnya dan kemudian semakin mengecil, tapi bagian kepalanya laksana kepala jamur yang besar. Rita tak mampu mencegah dengan pesona ukurannya dan bahkan itu sama sekali belum ereksi. Rita merasa bagaikan seorang wanita jalang yang mencermati ukuran kejantanan David dan dia marahi dirinya sendiri karena bertingkah bagaikan wanita binal yang diamuk birahi.
Saat mereka tiba di area kapal karam, Rita berharap dinginnya air dan indahnya pemandangan bawah laut akan membuatnya lupa apa yang ada dalam celana David. Tapi celana David sebenarnya bukanlah celana renang, hanya celana pendek biasa dan bahan kainnya cukup tipis. Begitu basah, celana tersebut menempel di kulitnya, hingga batangnya yang panjang dan gemuk tercetak jelas di celananya. Celana renang pendek itu sebenarnya jadi lebih mempertontonkan kejantanan David dibandingkan speedo kemarin, karena bahan speedo yang ketat membuat batangnya terlihat lebih kecil dari ukran yang sebenarnya.
Perjalanan balik ke resort jadi siksaan bagi Rita. Vaginanya berdenyut liar. Setelah David muncul dari dalam air, celananya yang basah melekat di tubuhnya layaknya kulit kedua. Dia duduk di depan Rita seperti sebelumnya, tubuhnya disuguhkan dengan bebas. Benak Rita jadi gila oleh nafsu setiap kali dia berusaha menghindar agar tak memandang tubuh David. “God, aku sungguh binal,” dia rutuk dirinya sendiri, berusaha sembunyikan dari David efek yang dia beri padanya. Hormon kehaRitannya yang bergejolak semakin membuatnya bertambah parah. Menyadari kalau dia baru saja menikah, juga hamil, begitu mendambakan David, membuatnya merasa seperti wanita murahan. Dia lilitkan handuk ke pinggangnya agar paling tidak David tak bisa melihat betapa basah selangkangannya.
“Kamu mau makan siang denganku?” tanya David saat dia bantu Rita turun dari kapal. Rita gelengkan kepala menolak, tak mengucapkan sepatah katapun karena dia takut suaranya akan terdengar gemetar dan membuka kelemahannya di hadapan David. Mungkin saja tubuhnya menginginkan David tapi dia masih bisa mengontrol kepala dan hatinya dan dia sudah menetapkan hati untuk tak akan lagi menghianati Joni.
Dia bergegas menuju kamarnya, berharap mendapat seks di siang hari untuk melepaskan birahinya. Tubuhnya butuh kepuasan. Tapi Joni tak ada dan baru akan kembali hingga makan malam nanti.
Masih dududk di pinggir ranjang, Rita taruh kepalanya dalam tangannya, air mata frustrasi seksual mulai mengaburkan matanya. Dia telah lakukan apa yang dia bisa. Dia naik ke atas ranjang dan dengan satu tangan masih menutupi matanya, dia turunkan tangannya yang satu lagi masuk ke dalam bikini bawahnya. Jarinya menyentuh kelentitnya dan hampir saja sengatan rasa nikmat membuatnya memekik. Dia buka pahanya lebar saat jarinya mulai menggesek kelentitnya dengan gerakan melingkar, ombak orgasmenya datang dengan cepat.
Joni saksikan pengantin barunya bermasturbasi dari kegelapan almari pakaian. Dia merasa lega sekaligus kecewa mendapati Rita masuk ke kamar hotel hanya seorang diri. Bagian gelap dirinya berharap Rita bersama David di atas ranjang. Tak diragukan, David sudah membuat Rita birahi dan Davidlah alasan Rita melakukan masturbasi di tengah hari. Sama sekali tiada ragu Rita tengah membayangkan David saat dia memuaskan dirinya sendiri. Pikiran itu membuat batang penis Joni berdenyut.
Tubuh Rita mengejang, punggungnya melengkung naik, jari kakinya menekuk ke dalam matras dan dia mendesah panjang saat ombak orgasme menghantam tubuh mungilnya yang lentur. Namun selang beberapa saat berusaha mengatur nafasnya, Rita memukul ranjang dengan tangannya dan menangis frustrasi. Orgasme yang dia dapat bisa sedikit menolong, tapi apa yang diinginkan tubuhnya adalah sebuah persetubuhan yang selayaknya, sebuah kepuasan sejati yang hanya bisa diraih dari sebatang penis besar dan keras.
“Tadi itu sangat indah,” sebuah suara terdengar dari arah pintu.
“Oh my god!” teriak Rita begitu dia lihat ternyata itu adalah David. Dengan panik dia tutupi tubuhnya dengan selimut. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa masuk?”
“Kamu nggak kunci pintunya,” jawab David ringan, senyuman bejat tersungging di wajahnya. Dia melangkah mendekati ranjang. “Sangat indah, yang tadi. Nggak ada yang lebih sexy dibandingkan seorang wanita yang bermain dengan tubuhnya.”
“Kamu harus keluar,” kata Rita panik, perasaannya bercampur antara takut dan mengharap. “Aku sudah menikah, kamu nggak boleh di sini.”
“Kurasa kamu butuh yang lebih,” ucap David, tak mengacuhkan ucapan Rita. Dia buka celananya dan membiarkannya jatuh ke kakinya.
“Oh god,” Rita tercekat, matanya terbelalak lebar menatap batang penis David yang besar, ereksi dengan sempurna. David tertawa kecil, dia tak kaget dengan reaksi wanita dengan tubuhnya. Batang penisnya lebih keras dari biasanya sekarang ini. Dia suka menikmati keindahan tubuh wanita yang sudah bersuami. Dia suka menyetubuhi isteri orang. Ada sensasi tersendiri saat merayu dan menaklukkan isteri orang. Tapi Rita adalah seorang pengantin baru, yang sedang berbulan madu. Dan dia adalah wanita tercantik dan paling sexy dibandingkan dengan semua wanita yang pernah dia nikmati. Penaklukannya kali ini akan dia ingat dalam waktu yang sangat lama.
Rita tak melawan saat David menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia tak melawan saat David melucuti bikininya, ataupun saat dia pentangkan pahanya lebar. Dia tak menolak saat batang penis David menembus tubuhnya. Dia tak menolak saat David menyetubuhinya dan menyemburkan spermanya di dalam rahimnya. Rita sudah tak memiliki perlawanan dalam dirinya lagi, tubuhnya telah memenangkan pertarungan dengan kepala dan hatinya.
Dan dari kegelapan di dalam almari pakaian, Joni merekam adegan yang dimainkan David dengan pengantin barunya, satu tangan yang gemetar memegangi camcorder dan satu tangannya yang lain mengocok penisnya dengan cepat dan keras.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...